Kamis, 20 September 2012

BILA RESAH HATIMU





Bila resah hatimu membekas
Melewati batas   cakrawala di akhir senja
Jangan kaubiarkan  sampai matahari terbenam
Kecemasanmu berubah jadi kekecewaan

Bila rasa kecewa menguasaimu
Jangan pernah kauukur dengan patokanmu
Jangan pula kau hitung dengan jarimu
Sabarlah, waktu akan mencairkan kecewamu

Bila kau tak mampu untuk mengurung rasa sedihmu
Kekecewaan dan  kesedihan  berubah jadi kemarahan
Ketika kemarahan menjadi matang dalam benakmu
Akan melahirkan kekerasan

Bila kau bersikeras  dalam maumu
Engkau akan kehilangan segalanya yang baik
Karena kurungan rasa kecewa,kemarahan
Tidak akan membebaskanmu
Sampai engkau  membuka  diri,
Mengelus dada, menunduk dan merunduk
Mengakui  semua keteledoranmu

Bila semua telah terangkat dengan bebas
Oleh pengakuan dan pengampunan
Kau akan merasa seperti berjalan di atas  udara
Atau berpijak di air, bebas dan membahagiakan

Bila kau sudah tahu membedakan
Mana yang perlu kau bawa dan kautinggalkan
Dalam meniti  hari-harimu
Kau akan insaf ,Tu hanmu berpihak pada yang murah hati
Yang tidak menghitung hari dengan kesalahan dan dosa
Yang tidak melintasi waktu dengan dendam dan ragu
Tapi berkenan pada ketulusan dan kejujuran hatimu.***HM

Jalan Keheningan St. Yosep




Ketika Yusuf mengetahui bahwa maria sedang mengandung ia ingin menceraikannya dengan diam-diam.Ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata : “Yusuf anak Daud, janganlah engkau takut mengambil  Maria sebagai isitrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Bdk Matius  1 : 20-21,24  ( Konstitusi  KKS no. 14).

St.Yosep  sungguh seorang  tokoh  dalam Perjanjian baru, yang  melayani Allah  tanpa  suara. Injil tidak mencacat  sepatah kata  pun yang diucapkan  oleh St.Yosep. Kita  boleh mengontemplasikan  reaksi  jawaban  verbal St.Yosep  kepada malaikat  yang  menampakkan diri kepadanya untuk  “membujuknya dan meneguhkan keputusannya” untuk tidak takut mengambil Maria  sebagai  istri dan harus memberi nama  kepada  bayi yang  ada dalam kandungan Maria  setelah lahir nanti. Kita boleh saja  membayangkankan secara manusiawi kemungkinan  dialog Yosep dengan malaikat.
Kita tentu pernah menonton film Joseph of Nazareth. Salah satu contoh imajinasi manusia  masa kini untuk mencoba menterjemahkan, menghidupkan  peran St.Yosep, yang  tidak banyak dikisahkan dalam Injil.  Sebagai  lelaki biasa, digambarkan dalam film tersebut, bahwa pada  awal mulanya, sulit bagi Yosep  untuk mempercayai  apa yang dikisahkan Maria  kepadanya, bahwa  semuanya  telah terjadi dengan campur tangan Tuhan. Yosep menamakan dirinya  bukan sebagai lelaki dewasa  yang bodoh, yang begitu saja  mempercayai apa yang dikisahkan. Sama  seperti  semua pria lainnya  atau semua manusia, tidaklah semudah  itu untuk mempercayai  suatu kejadian atau peristiwa yang terjadi di luar  kebiasaan kehidupan normal manusia  dari abad ke abad. Tidak begitu mudah bagi Yosep  untuk menerima  tanpa tahu penyebab. Pergumulan batin yang hebat, antara menerima dan menolak, karena bagaimana pun Yosep sangat mencintai  Maria.  
Allah  mempunyai cara sendiri  untuk meyakinkan St.Yosep  akan  intervensi-Nya  terhadap   kehadiran Sang  Janin dalam rahim Maria  dan seluruh rencana-Nya. Hanya melalui  mimpi. Melalui mimpi  yang  dipercayai Yosep  sebagai  pewahyuan Allah sendiri, tanpa  bersuara, tanpa banyak kata, bahkan tanpa  berpikir  lebih, Yosep memutuskan untuk mengambil Maria  sebagai  istri. Penggambaran dalam film itu, selanjutnya  tidak pernah  ada lagi  reaksi Yosep yang emosional  sebagaimana awalnya. Yosep tampil sebagai   figur  pria yang tulus hati ( Matius 1 : 19. Ketulusan hati Yosep  nampak  dalam seluruh kisah hidup  Yosep sampai akhir hidupnya, meninggal dunia  dalam kedamaian  di tangan Maria  dan Yesus Puteranya. Ini salah satu contoh visualisasi figure  Yosep dari Nasaret.Namun bagaimanapun apa yang dilakukan St.Yosep sepanjang  hidupnya  adalah menyuarakan semuanya.

Menyuarakan Kehendak Tuhan
Sering  dalam realita hidup, kita  kurang begitu mempercayai orang yang  nampak  tenang, diam, tidak banyak bicara  bisa menyuarakan sesuatu  dengan baik. Bahkan dalam berbagai disiplin ilmu  kita  tahu, bahwa  berbicara adalah sebuah ketrampilan  komunikasi manusia yang sangat penting, yang perlu selalu dilatih  untuk mahir. Tidaklah demikian dengan Yosep dari Nasaret ini. Injil saja  tidak mencatat  satu katapun yang diucapkan Yosep. Tetapi kita percaya, Yosep  telah banyak sekali berbicara kepada  Tuhan, Yahwe yang menyelamatkan. Kita percaya, bahwa  Yosep  selalu  bersuara, berdialog dengan Allah dalam segala  hal, segera setelah dia memutuskan mengambil Maria  sebagai isteri.  Yosep  telah selalu bercakap-cakap dengan Allah, dengan  malaikat  pelindungnya  secara  intensif  dalam seluruh masa  hidupnya. Setidaknya  inilah yang  dikisahkan dalam buku “Kisah Kehidupan Santo Yosep” Seperti yang dinyatakan Tuhan Yesus Kristus kepada maria Cecilia Bay,OSB.Kepala Biara  Benediktin dari St. Petrus di Montefiascone, Italia Tahun 1743 -1766, yang diterbitkan  oleh Marian Centre Indonesia.2008.
Membaca  dan merenungkan  kisah Santo  Yosep  tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa  Yosep dalam  segala  hal, menyuarakan kehendak Allah. Dalam keheningan, suara  Yosep  bergema  dengan sangat  kuat kepada  Allah. Hampir  setiap  saat, Yosep berseru kepada  Allah. Tanpa itu, Yosep  tidak tahu apa yang  mesti dilakukan.Tanpa itu, Yosep  tidak tahu bagaimana  bersikap terhadap  Maria  dan Yesus, selama  tahun-tahun hidup mereka yang penuh kesulitan dalam pengungsian di Mesir  dan beberapa  waktu  di Nasaret. Yosep  telah selalu berdialog dengan malaikat pelindungnya.bahkan dikisahkan pula, Yosep  selalu diliputi oleh  sukacita  dan kebahagiaan  yang luar  biasa besar dalam segala  hal. Bahwa  Yosep perlahan-lahan menyadari dengan amat baik, peran agung  tangan Tuhan yang kuasa  dalam hidup  keluarganya  bersama Maria dan Yosep. Bahkan sukacita  Yosep yang luar biasa, ketika  sesekali menyadari bahwa  dia selalu  berkomunikasi, berdialog dengan ‘Yang  Mahatinggi” yakni Yesus  Puteranya.
Meskipun  itu juga  kisah yang dituliskan manusia, namun kita boleh percaya  bahwa  sungguh  jalan keheningan Yosep yang  tanpa  suara  itu, adalah jalan untuk menyuarakan kehendak Allah dengan sempurna.Kita  jug a boleh berkontemplasi  dengan cara kita sendiri untuk berjumpa dengan Santo  Yosep secara pribadi. Menonton filmnya, membaca buku yang menuliskan kisah hidup St.Yosep, membaca  dari Kitab suci dan berbagai literature yang  lainnya, bagi saya  selalu saja  muncul  inspirasi  baru tentang  pribadi St.Yosep, yang membuat  saya sangat  terpesona. Selama ini, saya terlalu mengabaikan peran St.Yosep, hanya karena  tidak begitu  tahu, tidak juga  berkeinginan mencari tahu.Tetapi setelah mengenalnya sedikit  lebih dalam, keterpesonaanku memuncak pada  jalan keheningannya  yang menyuarakan kehendak  Allah.
Menyusuri jalan keheningan St.Yosep
Kita  hidup di jaman yang penuh kebisingan dan hiruk pikuk kehidupan. Rasanya  waktu berputar  sangat  cepat. Semua orang nampak sangat  sibuk. Kehidupan  rohani  kita  semakin bergeser, digerus  habis  oleh perkembangan jaman dengan  mobilitas globalisasi yang sangat  kuat. Kita harus  akui bahwa semua kita  manusia, takut  merasa  sendirian, takut  kesepian, takut akan keheningan. Lihat  saja, di mana-mana  orang selalu berkomunikasi  dengan cara apa saja. Bahkan dalam doa-doa kita  juga, kita  lebih banyak  berbicara  daripada  diam atau hening. Hanyan sedikit orang  yang  berani bertahan dengan keadaan yang sunyi, sepi dan hening.
Barangkali awal mula, Yosep juga demikian, sebelum dengan intens  bersahabat  dengan Allah  dalam relasi yang luar  biasa  karib. Yosep  diiubah  oleh  Allah  menjadi  pribadi  yang hening dan menjalankan kehendak Allah, tanpa  suara. Suara  Yosep  terdengar  dalam gema bunyi-bunyi alat  dan perkakas  pertukangan di rumahnya di Nasaret. Suara Yosep  terdengar dalam bunyi langkah  derap kakinya  yang kokoh dalam  perjalanan menuju  Betlehem waktu hendak sensus  penduduk, dalam derap langkah kakinya menuju Mesir  dalam pengungsian, dalam perjalanan kembali ke Nasaret, dalam perjalanan ke  Yerusalem mencari anak Yesus  yang hilang. Suara Yosep terdengar  dan terbaca dengan jelas  dalam pandangan  kebapaannya yang penuh pengertian kepada Yesus Puteranya.
Dalam  buku Kisah  Kehidupan Santo Yosep, dikisahkan pula, bagaimana  Yosep  dengan sangat  hati-hati, penuh penghormatan yang tinggi kepada  Yesus  Puteranya, ketika  sedang mengajar  Yesus bekerja  di bengkelnya sebagai tukang kayu. Hanya  sesekali terdengar  suaranya  untuk mengajarkan beberapa hal yang penting kepada Yesus. Tetapi dalam hati, Yosep selalu berbicara dengan Tuhannya. Yosep bahkan lebih banyak mencermati, memandang  Yesus  sepanjang  hari, sepanjang  waktu dengan penuh rasa ketertarikan yang  amat besar, keterpesonaan. Yesus  kecil yang kadang  tidak begitu menyadari  perhatian, pandangan ayah-Nya, sangat  mengagumi ayah-Nya yang penuh perhatian dan memiliki sifat kebapaan yang luar biasa besar. Yesus  sangat  nyaman dan bahagia bersama  ayah-Nya  meski sepanjang  hari  bekerja  di bengkel  kayu  dalam keheningan. Tetapi hati mereka  selalu berbicara  dalam keheningan di antara  alunan bunyi perkakas  yang bertalu-talu.
Keheningan  Yosep   telah bergema  dengan sangat  kuat, menembus  relung  hati  terdalam kanak-kanak Yesus.Keheningan Yosep, menyokong  keheningan Bunda Maria  yang bersatu penuh dengan Allah  dan kehendak-Nya. Keheningan Yosep  bergemuruh  hebat  menyatakan bahwa  di bumi ini  masih ditemukan sosok pria tulus hati yang melakukan  kehendak Allah dengan sempurna tanpa banyak kata,banyak bicara, banyak pertimbangan.Tidak ada lobi, atau negosiasi, tidak ada  demo, tidak ada sms atau teleponan, tidak ada apa-apa selain keheningan. Keheningan yang membawa  Yosep  mengenal kehendak Allah, melaksanakannya.Keheningannya membuatnya bersyukur  dengan kegembiraan besar, bahwa  Allah memang  berkenan kepada  hamba-Nya yang rendah.
Sederetan  gelar diberikan kepada St.Yosep meskipun sampai  hari ini Yosep tetap tidak bersuara. St.Theresia dari Avila menulis :” Aku menjadikan St.Yosep pembela  dan pelindungku, aku mempercayakan  diriku sepenuh hati kepadanya.Ia datang menolongku dengan cara paling nyata. Untuk menyempurnakan sukacitaku, ia senantiasa menjawab doa-doaku lebih dari yang aku mohon dan harapkan.Aku tidak ingat, bahkan sekarang, bahwa aku pernah memohon sesuatu kepadanya yang tidak ia perolehkan bagiku.Aku terpesona luar biasa yang Tuhan anugerahkan  kepadaku melalui  St.Yosep dan atas  segala mara bahaya di mana ia telah membebaskan aku baik tubuh maupun jiwaku.”
Banyak  orang kudus  telah mengalami secara langsung  bagaimana  dalam keheningannya, Yosep telah menyuarakan mereka  di depan Allah. Banyak orang yang telah berlindung  padanya, tidak sekadar  memakai  namanya dan menyebut  namanya  tetapi mereka  meniru jalan keheningannya  dan berani menyuarakan kehendak Allah  dalam keheningan  mendalam. ***hm

Mengubah Hidup Menjadi Sebuah Doa



Tuhan bersabda : “ Percayalah teguh bahwa hanya jalan kasih dengan roh kerendahan hatilah satu-satunya jalan yang seharusnya kaulakukan!” Bunda Maria juga mengatakan: “ Tidakkah kita seharusnya rendah hati seperti Yesus telah merendahkan diri-Nya sendiri? Marilah bersikap rendah hati sambil merenungkan  Yesus  di  gunung  Golgota dan berjalan dengan sepenuh hati di belakang-Nya? Aku ingin agar kalian semua menjalani jalan kesempurnaan bersamaku, melalui kemiskinan,kerendahan  hati, kesetiaan, dan kemurnian.”
Kita seharusnya menjadi jiwa kecil yang melayani sesama dan melakukan permintaan Tuhan dan Bunda Maria  dalam hidup kita. Tuhan Yesus  datang ke dunia untuk melayani bukan untuk dilayani. “ Tuhan, tolonglah kami agar dapat meniru Engkau dan merendahkan diri sampai akhir.”Ketika Yesus berdoa  di  taman Getsemani menjelang  sengsara dan wafat-Nya, Yesus sangat takut sampai  berkeringat darah. Meski demikian Yesus tidak berdoa dan mengingat kepentingan diri-Nya sendiri, tetapi diri-Nya dipertaruhkan untuk semua umat  manusia, demi keselamatan dan kebahagiaan manusia.
Meski sering kita menyadari pengorbanan Yesus, yang luar biasa besar ini, tetap saja manusia  hidup dalam keterpecahan, keegoisan, dalam kecemburuan dan iri hati, mengeritik dan menjelekkan sesama yang membuat  Yesus semakin bertambah menderita  dan menjerat  manusia  sendiri dalam suatu disposisi batin yang semakin jauh dari Tuhan dan sesama.
Bunda Maria, melalui pesan-pesannya, senantiasa mengingatkan kita  akan kasih dan pengorbanan putera-Nya. Bunda Maria mengajak kita untuk menjahit  hati Tuhan kita Yesus Kristus  yang terkoyak dan tercabik-cabik dengan pengertian yang mendalam akan kasih Tuhan melalui pelayanan kasih kepada  sesama.Kita selalu mempunyai banyak kesempatan untuk mengubah irama hidup harian kita menjadi sebuah doa, dengan menyatukan dan mempersembahkan semuanya pada Tuhan melalui ungkapan-ungkapan doa sederhana.
“Tuhan, seperti kami memasak sayur dengan memberi bumbu sehingga  menjadi  satu, tolonglah kami menjadi  satu dengan yang lain dalam keluarga dan komunitas kami.Buatlah agar kami menikmati hidup dalam persatuan dan persaudaraan, menjadi manusia baru dalam cinta yang dipersatukan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri.” Dalam segalanya  kita perlu memeriksa batin kita, apakah kita gagal  membina persatuan dalam komunitas kita? Apakah kita seperti minyak dan air yang  tidak bisa bercampur? Iblis akan senang melihat perpecahan di antara kita yang dikarenakan adanya konflik kecil dan ketidakmampuan kita untuk saling mengampuni, memaafkan dan melupakan, dalam kehidupan sehari-hari.
Kita  cenderung lebih mudah mengingat kelemahan dan kesalahan sesama, daripada  kelebihan dan keisitimewaannya. Kita kadang kurang rela untuk mengakui dengan jujur apa yang mengganjal dalam diri kita. Kita bahkan mudah untuk membalas  dendam. Kita lupa, kalau bila kita difitnah, dikritik atau dipermalukan, sesungguhnya semuanya sudah dibayar lunas  oleh Yesus Kristus  dengan darah-Nya yang tercurah di kayu Salib sebagai wujud cinta-Nya yang abadi. Kita lupa kalau kita punya kesempatan untuk mengubah pengalaman pahit dengan sebuah ungkapan sederhana kepada  Tuhan. “Tuhan, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Kasihanilah dan berilah mereka rahmat pertobatan.” Ketika  kita  salah berbicara, meluncurkan kata-kata keras dan kasar  terhadap sesama tanpa perasaan, gossip,ngrasani, menghakimi atau bahkan mengkritik. Kita dapat pula berdoa. “ Tuhan, aku telah salah berbicara yang sangat melukai hati-Mu dan sesama. Ampunilah aku, berkatilah aku yang lemah ini.”
Kita banyak menghabiskan waktu  untuk berkomunikasi dengan sesama, via SMS, telepon, ngobrol, tetapi jarang menyadari bahwa  kita juga memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Kita bekerja keras sepanjang hari dengan susah payah, namun lupa mempersembahkan kepada Tuhan. Ketika kita menikmati makanan yang enak bahkan sisa dan terbuang. Kita dapat berdoa. “Tuhan, pandanglah  dan terimalah pengorbananku ini untuk keselamatan jiwa  malang yang terlupakan. Anugerahilah rejeki pada mereka yang kelaparan dan kehausan.
Kesadaran bahwa dengan cara sederhana kita dapat berkomunikasi dengan Tuhan, membantu kita untuk mengembangkan relasi yang lebih sering dengan Tuhan, tidak menunggu saat sangat membutuhkan bantuan baru memaksa Tuhan untuk mengabulkan doa-doa kita. “Tuhan, Engkau selalu hadir setiap saat menyertai kami, kasihanilah kami.” Rekonsiliasi dengan Tuhan dimulai dengan niat tulus untuk berelasi dengan Tuhan sesering mungkin. *** Maria Dolorosa

BERUBAH DAN BERBUAH



Rekonsiliasi berarti berubah. Berubah  berarti memulai sesuatu yang baru.Memulai sesuatu yang baru ditandai dengan keberanian penuh kesadaran meninggalkan masa lalu yang  nyaman  namun suram menuju kepada  masa depan, hari baru  yang penuh ketentraman dan  kedamaian meskipun penuh tantangan  dan butuh pengorbanan.
Kita  semua memiliki pengalaman mengampuni sesama dan diampuni.Acap kali kita lebih merindukan diri kita  dipahami, dimengerti, dimaafkan sesama bahkan kesalahan kita  dilupakan, ketika kita berbuat  salah. Namun tidak jarang, ketika orang lain yang bersalah pada kita, tidak mudah bagi kita untuk mengerti, memahami, mengampuni dan  melupakan kesalahan sesama. Perilaku hidup kita kadang  tidak fair.
Kadang pengalaman sederhana yang dialami sesama  dalam mengembangkan sikap rekonsiliasi penuh kasih, menginspirasi kita untuk berubah. Bisa juga pengalaman sederhana kita  dalam memberi kesempatan kepada  orang lain yang kita ampuni, bisa menginspirasi sesama kita.Kita sering bercermin dan meniru sikap dan perilaku sesama dalam hal yang baik maupun yang kurang  baik. Tidak ada kans  untuk menuju rekonsiliasi sejati, kalau kejahatan dibalas  dengan kejahatan, kekerasan dengan kekerasa, gigi ganti gigi, balas dendam supaya sama-sama merasakan penderitaan. Tidak, untuk orang beriman yang menaruh harapan pada Tuhan.
Pertobatan orang beriman tidak sekadar  rangkaian kata-kata indah tetapi dikonkretkan dalam kehidupan yang nyata. Bertobat harus  lahir  dari kedalaman hati yang tulus, wujud iman  dan kasih kepada Tuhan.Meski sulit  untuk mewujudkan pertobatan dan rekonsiliasi sejati, bagaimanapun harus  tetap diupayakan, dihayati dan dihidupi.  Sekecil apapun usaha  kita menuju rekonsiliasi  sejati, pasti ada buahnya, karena  rahmat menjadikan hidup kita berubah dan berbuah. Rekonsiliasi sejati menghasilkan perubahan batin dan berbuah  kasih.  *** Eli

BILA


Bila  engkau tidak bisa menjadi
Seperti pohon mahoni di hutang  lindung
Jadilah seperti bunga bakung yang indah
Dipadang  hijau
            Bila engkau tak bisa menjadi
            Bunga bakung di padang
            Jadilah seperti tanaman putri malu
            Yang memperindah jalan setapak
Bila engkau tak bisa menjadi
Seperti ikan mas koki
Jadilah seperti mujair yang lincah
Di dalam kolam
            Bila  engkau tidak bisa menjadi
            Seperti penabuh genderang  perdamaian
            Jadilah seperti pemain seruling
            Untuk menyemarakan  alam yang indah
Bila engkau tidak bisa menjadi
Seperti pasukan penjaga  perdamaian
Jadilah seperti barisan anak-anak yang gembira ria
Untuk  menghibur hati orang tua mereka
            Bila engkau tidak bisa menjadi
            Seperti para  pemahat karya seni
            Jadilah seperti pembeli karya seni
            Yang mengagumi keindahan dunia ini
Bila engkau  tidak  bisa menjadi
Seperti rajawali yang bisa  terbang  tinggi
Jadilah seperti  burung  pipit
Yang menyemarakan cerahnya pagi dengan kicauannya
            Bila engkau  tidak bisa  menjadi  tuan
            Jadilah hamba yang setia
Sebab  apapun di dunia  ini
Ada  ukuran dan takarannya
Ada maksud  dan tujuannya
Bila engkau menghendaki  kedamaian hati
Jangan meninginkan apa yang tidak layak untukmu
Kenakanlah  apa yang tepat untukmu
Peganglah  yang teraih olehmu
            Asal Allah dimuliakan dalam hidupku
            Asal hatimu tidak tersandung kebencian dan dendam
            Asal damai jadi milikmu***

KADANG


Kadang…
Dalam kekuatan
Dalam kesuksesan
Dalam keberuntungan
Tidak ada lagi tempat  bagi-Nya
            Semua seakan berjalan begitu saja
            Semua seakan memang  sudah seharusnya
            Semua seakan dapat berjalan tanpa-Nya
Kadang…
Dalam kelemahan
Dalam kegagalan
Dalam permasalahan dan derita
Ada tempat yang cukup luas bagi Tuhan
            Adakah Tuhan menghendaki kelemahan?
            Adakah Tuhan menghendaki kegagalan?
            Adakah Tuhan menghendaki permasalahan dan derita?
Atau…
Dia hanya minta 
Sebuah tempat  di hati yang cukup luas
Bagi Dia  dalam hidup kita
            Saat ini…
            Entah berhasil atau gagal
            Entah kuat atau lemah
            Entah berutung  atau malang
Sediakan tempat  bagi-Nya
Untuk menyatakan kasih dan kuasa-Nya.***

BERILAH KAMI DAMAI



Seorang guru sekolah minggu bertanya  kepada murid-muridnya: “Apa yang biasa kalian mohonkan setiap hari ketika bangun pagi”? Jawaban muridnya bervariasi tergantung  dari pengalaman kesehariannya.Ada yang menjawab, mohon sehat  dan selamat, dilindungi dan dijaga. Ada yang memohon berkat  agar  diberi segala kemudahan  dalam belajar, dilindungi dalam perjalanan dan dibebaskan dari  segala  yang  jahat. Ada yang  memohon  nilai  yang bagus waktu ulangan, diberi uang  jajan yang banyak oleh  orang tuanya.  Ada  seorang  anak   dengan malu-malu menjawab,  mohon  hati yang damai dan tenang. Sang  guru sangat  tertarik dengan jawaban anak yang  agak berbeda  dari teman yang lain dan bertanya  pada  si murid: “Mengapa  mohon hati yang tenang  dan damai?” Si anak menjawab, karena  dia  tidak suka mendengar  setiap hari  papa dan mamanya  rebut terus, mama marah-marah pembantu, papa  marah-marah kepada  sopir. Dalam telepon papa juga bersuara keras-keras, bahkan bentak-bentak. Si anak selalu ketakutan dan merasa  tidak aman.  Sang  guru menjadi mengerti rupanya   si anak  merindukan ketenangan, kenyamanan karena  situasi  di sekitarnya bahkan  yang dialami oleh orang-orang yang dicintainya  tidak nyaman, dan karena itu hatinya juga  tidak nyaman.
Penggalan kisah  ini banyak  dialami  di tengah  lingkup keluarga dan komunitas  kita. Tidak seorang pun yang berharap  ketika  pagi hari, sudah terdengar keributan, tidak ingin menyaksikan pengalaman kekerasan  dan tidak menyukai berita-berita  dalam mas  media yang menyuguhkan  tindakan kriminalitas  dalam berbagai bentuk yang membuat  hati  tidak nyaman dan was-was sepanjang  hari. Apalagi akhir-akhir ini marak  berita   kecelakaaan lalulintas  akibat  kelalaian  yang merenggut  nyawa banyak orang, yang sebetulnya  bisa  terhindarkan.  Orang mulai berpikir  dan berkata : “ Berkendaraan di jalan bagaimanapun hati-hati, ditabrak orang. Naik pesawat semakin tidak nyaman karena  ada oknum pilot  yang mengkonsumsi narkoba. Berjalan kaki di  trotoar  bisa  ditabrak orang, naik bus, kecelakaan masuk jurang, berlayar  di laut  dengan kapal, angin kencang  dan terancam tenggelam, tidur  di rumah pun bisa mati mendadak.” Di mana saja, kapan saja, di bumi ini  nampaknya  sudah tidak ada lagi tempat  yang nyaman untuk dihuni dengan penuh ketentraman dan  kedamaian. Benarkah, di  bumi ini sudah tidak ada lagi tempat  yang nyaman untuk dihuni?
Tidak cuma sekadar  kerinduan
Damai…damai… Peace! Dirindukan oleh semua makluk penghuni bumi ini.  Seruan damai  dikumandangkan di mana-mana terutama kepada  tempat, Negara, bangsa  atau sekelompok orang yang  sedang berseteru. Dendang damai  dalam hati, dilantunkan  tanpa  suara  sebagai  sebuah  permohonan doa  yang tak kunjung putus  dipanjatkan ke hadirat  Allah Penguasa  kehidupan oleh setiap  makluk, setiap manusia yang menyapa-Nya dengan nama masing-masing. Sorotan mata  menanti perlindungan terhadap ancaman tidaknyamanan dari anak-anak dalam keluarga dan masyarakat  kita, sepertinya semakin tajam. Tidak hanya  damai  yang dapat  sungguh  dirasakan dan dialami dalam hati  sanubari tetapi juga kerinduan akan ketentraman yang dapat dirasakan  dan dinikmati di sekitar  lingkungannya. Damai  di  hati, tentram di bumi,  tenang  di dunia, bahagia  di surga.
Ada banyak hal yang menghambat kedamaian yang dirindukan dan diharapkan terwujud. Antara lain konflik yang  terjadi  tak terhindari. Dikarenakan  ada banyak muatan kepentingan individual dan golongan di dalamnya. Ketika  seseorang atau sekelompok orang berniat memenuhi kebutuhan atau bahkan keinginannya tanpa mempedulikan sesama dan lingkungannya, maka  konflik  dengan mudah terjadi. Ketika  kerinduan akan  ketenangan dan kedamaian, digilas  oleh  hasrat  untuk  menguasai sesama dan alam sekitar, konflik  tentu akan hadir.  Ketika  orang tua  hanya  sibuk dengan urusan pekerjaannya dan kurang menaruh hati penuh kasih pada anak-anaknya bahkan  konflik batin pun terjadi.  Stimulus konflik dari pihak tertentu akan mendapat  respon dari pihak lain, yang  menyulut  membaranya kobaran  konflik yang sering kali berujung pada   penderitaan.
Lebih dari itu, kita mengamini bahwa  kerinduan  akan damai  menjadi sulit  terwujud tidak hanya  berpangkal  dari konflik  tetapi  secara interen berasal dari diri sendiri. Banyak dari kita tahu  bagaimana harus  hidup damai, tetapi  sering  tidak begitu tahu bagaimana  cara yang tepat  untuk membuat  suasana  damai entah itu di rumah, dalam komunitas dan di manapun. Kerinduan yang tidak disertai dengan upaya   kuat  untuk berdamai baik dengan diri sendiri, sesama, lingkungan sekitar  dan berdamai dengan Tuhan,  memang  sering membawa kita  pada situasi  yang kurang  damai.  Ada konflik dengan tingkat  ringan beratnya  berbeda-beda. Rindu  damai  tidak cukup  untuk hidup, perlu dimohonkan dengan tidak jemu-jemu dan diupayakan dengan sekuat kemampuan.
Damai  perlu  dimohonkan
Hari pertama  pada  setiap awal tahun  diabadikan sebagai Hari Perdamaian  Sedunia.Bahkan  Gereja  juga mempersembahkan hari pertama ini  sebagai  hari penghormatan khusus  bagi  Bunda Maria  sebagai  Santa Bunda  Allah.  Tentu  ada maksud  mulia  di balik semua peristiwa  itu yang bagi kita  kaum sederhana  dapat   menggali maknanya  yang mendalam. Bunda Maria  juga mendapat  banyak gelar  diantaranya sebagai Ratu Pencinta Damai,  Regina Pacis. Bunda Maria, Sang  Ratu perdamaian, dihadiahkan  dan dimuliakan oleh Allah yang dihormati dan dijunjung  tinggi oleh Gereja, menjadi  sosok  yang layak  dijadikan tempat  pengaduan  nasib bagi putra-putri  Allah yang merindukan perdamaian.
Meskipun ada banyak cara dan jalan untuk memohon dan kepada  siapa  kita  harus memohon, kita meyakini dalam iman, bahwa  Maria, sang  Ratu Damai   dapat menjadi perantara  bagi kita untuk menyampaikan doa  dan harapan kita kepada  Yesus  Kristus Putera-Nya  Raja  Damai. Maka  kalaupun  ada yang merasa  di bumi ini tidak ada tempat  yang membuat  hati damai dan tentram, setidaknya masih selalu ada  tempat  bagi orang  beriman  untuk berharap akan mengalami kedamaian.
Banyak orang telah memberi kesaksian, bahwa  meskipun terlilit  problem  hidup yang berat dalam keluarga, dalam  bermasyarakat, dalam  berusaha dan berkarya, dalam membangun relasi  dan hubungan dengan sesama, ketika hati  sedang gundah, pikiran sedang  kalut, merasa sendirian dan terasing, ketika  berani  berhadapan dengan Bunda  dan menceritakan kepadanya, hati menjadi tenang  dan nyaman, pikiran menjadi lebih jernih, pandangan semakin luas, dada semakin lapang  dan kedamaian hati  dapat  dirasakan. Bisa  dimengerti, di dunia ini  kita membutuhkan sepasang  hati yang siap mendengar   tanpa komentar, yang selalu setuju tanpa membantah, yang setia menemani tanpa merasa terbeban, yang sungguh bisa  dipercayai  menyimpan rahasia hati tanpa membocorkannya, hanya  dapat  ditemukan dalam sosok  seorang Ibu  yakni Maria  Bunda Yesus.
Kita percaya  kita  dapat memperolehnya ketika  sering  memohonkannya. Kepada yang setia memohonkan, Tuhan berjanji akan memberikannya. Maka  seruan  “Tuhan, berilah kami damai, mesti menjadi seruan permohonan yang tiada putusnya  dipanjatkan kepada  kehadirat Allah.
Dalam perayaan Ekaristi sesaat  sebelum bersatu dengan Kristus  dalam  penerimaan komuni, imam bersama umat menyerukan  doa kepada Kristus, Sang Anak Domba  Allah, kasihanilah kami  dan berilah kami damai. Sangat  diharapkan persatuan dengan Kristus, membawa  kedamaian  yang langgeng  dalam hati batin.
Kesadaran  untuk berdamai 
Kedamaian  mahal harganya, harus dibayar  dengan pergumulan batin dan pengorbanan  untuk keluar  dari diri sendiri.  Meski demikian,kedamaian  dapat  dialami, dirasakan secara  perlahan-lahan, dalam batin yang tenang  dan murni. Kedamaian dapat  terwujud secara perlahan dalam rumah tangga dan komunitas  kita masing-masing. Kedamaian dapat  terwujud antara kita  dan lingkungan ketika  kita berkenan memberi  tempat  di hati kita bagi sesama dan lingkungan hidup kita. Kita semakin mengerti dan sadar,  alam dan lingkungan sekitar kediaman kita  kelihatan menjadi  kurang  ramah dan bersahabat  karena ulah  kita manusia  yang tidak mau berdamai dengan alam. Membuang  sampah sembarang  tempat sehingga ketika turun hujan, seloka menjadi tersumbat  dan terjadi genangan air. Ketika penebangan hutan untuk membuka  lahan atau daerah  penambangan  tidak disertai  upaya reklamasi.  Cuaca  yang tidak menentu, polusi  udara, polusi  suara, polusi air  yang membuat  kita tidak nyaman, terserang  wabah penyakit, diserang bencana alam secara tiba-tiba, juga  salam satu penyebabnya  adalah kita kurang berdamai  dengan alam sekitar  kita.
Tidak banyak dituntut  dari kita  untuk  berdamai dengan manusia  dan alam sekitar. Cuma  sebuah  kesadaran dalam diri  untuk menjaga keseimbangan ekosistem dalam komunitas  di mana  kita berada. Menjaga kelestarian mata rantai kehidupan  dalam lingkungan kita  sebagai habitat  tempat  makluk hidup saling  bergantung. Bagaimana kita berharap  sehat  walafiat, sementara  konsumsi oksigen  yang sangat  ditubuhkan tubuh  kurang seimbang karena  tiadanya pohon-pohon hijau di sekitar kita. Ketika  kita  kurang menaruh kasih yang sungguh dalam hati sebagai  sumber  kedamaian, konflik  akan terjadi  dan penderitaan pasti akan kita  alami.
Ada banyak  hal dalam hidup ini, yang tidak dapat  kita kuasai sendiri  dan lakukan sendiri tanpa  orang lain.  Tetapi dalam iman, kita  percaya, dalam situasi apapun, ketika kita  berharap pada Tuhan, kita  akan menerimanya. Mungkin tidak untuk seluruh dunia, tidak untuk orang-orang, setidaknya  hati kita sendiri  dapat  merasakan, ketentraman, ketenangan dan kedamaian. Kita  tetap mampu  hidup  dan melakukan aktivitas, tetap mampu bersyukur  dan berharap,  dan tidak putus  asa di tengah dunia  yang semakin tidak nyaman.
Menjadi  Pribadi  Pembawa  Damai
Sangat  indah doa damai yang  sangat  terkenal, yang dihapal oleh banyak orang dan telah menginspirasi hidup banyak orang untuk bertahan dalam situasi  sulit  dengan harapan iman yang kokoh . “Tuhan, jadikanlah aku pembawa  damai, bila terjadi kebencian, jadilah aku pembawa  cinta kasih. Bila terjadi penghinaan, jadikan aku pembawa pengampunan.Bila terjadi perselisihan, jadikan aku pembawa kerukunan.Bila terjadi  kebimbangan, jadikan aku pembawa kepastian.Bila terjadi kesesatan, jadikan aku pembawa kebenaran.Bila terjadi kecemasan, jadikan aku pembawa harapan. Bila terjadi kesedihan, jadikan aku sumber  kegembiraan.Bila  terjadi  kegelapan, jadikan aku pembawa terang. Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur, daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai.Sebab dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni aku diampuni, dengan mati suci aku bangkit lagi untuk hidup selama-lamanya. ( Puji Syukur No. 221)
Meski  kelihatannya  tidak mudah untuk dilakukan, tetapi  tidak begitu  rugi bila  coba didoakan, tentu dalam suasana tenang dan hening  dan coba diniatkan  dalam batin dan dipancarkan melalui perilaku hidup. Sungguh, kedamaian itu bisa  terwujud. Memang, soal damai  tidak seorangpun yang dapat membuat  dunia ini  berubah nyaman dalam waktu singkat, tidak seorangpun yang punya  cukup kekuatan dapat meyakinkan  sesamanya  untuk selalu hidup dalam damai.. Tidak semua  orang  berkenan  menjadikan dunia ini damai. Bahkan Tuhan saja  tidak menjanjikan hidup kita akan aman-aman dan damai saja. Tapi Tuhan menjanjikan penyertaan-Nya sepanjang masa. Dunia  ini milik kita bersama, yang dengan penghayatan kehendak bebasnya setiap kita  berusaha  menghidupinya.
Janji Tuhan  yang kita  percayai selalu pasti, bahwa  kita  didampingi, ditopang, ditolong, disertai sampai akhir  jaman. Entah  keadaan baik, entah keadaan buru, entah  dunia  kacau atau damai, Tuhan tetap selalu bersama kita. Kita  mungkin tidak perlu menjadi   duta damai  di tempat yang sedang terjadi konflik. Atau menjadi pasukan perdamaian  di  luar  negeri. Tetapi  menjadi  duta  damai  di tengah  keluarga, di  tempat  kerja, di jalan, di rumah, di sekolah, di pasar, di mana saja kita  berada.Kalau  setiap kita   dalam rumah tangga dan komunitas  sudah menjadi duta  damai  akan lebih  membahagiakan kita  seperti sebuah  pasukan perdamaian  di mana saja kita  berada. Maka  seruan, Tuhan berilah kami damai, yang selalu kita  mohonkan, sungguh akan menggema di hadapan Kristus Sang Anak Domba, yang akan mampu menggoncangkan tahta  surga  dan rahmat  perdamaian dari Allah, akan tercurah ke atas kita  bagaikan  hujan rahmat  yang menggenangi bumi.***hm