Rabu, 05 Oktober 2011

Menemaniku saat sendiri

Menerangiku dalam kegelapan

Mengampuni apabila khilaf

Mengerti keluhan yang tak terucap

Dalam hening sahabat menyapa

Menggugah jiwa yang layu menjadi segar

Hanya sahabat yang mengerti segala

Berjumpa dengan-Mu membawa sejuta makna

Dalam doa dan pelayanan

Bersama-Mu kuayunkan langkah

Memainkan peran yang semula tak kubayangkan

Bisikan cinta-Mu membawa semangat

Untuk tetap setia

Tak sedetikpun sahabat biarkan

Kujalani hidup ini sendirian

Pelukan kasih sahabat

Menjadi selimut hati yang membawa kehangatan

Hanya dalam-Mu kutemukan arti kehidupan.*** Fanny

WANITA YANG B ERTANGGUNG JAWAB

Kita menemukan dalam realita hidup banyak orang berani menjawab “ya” berani bertanggungjawab atas jawabannya. Namun ironisnya sering bukanlah jawaban ya terhadap sesuatu yang baik, tetapi ya terhadap sesuatu yang dalam ranah moral, manusiawi dan rohani sebagai sesuatu yang tidak benar dan baik. Kalau harus bertanggung jawab terhadap sesuatu yang tidak baik, sudah sepantasnya, tetapi bertanggungjawab atas ya yang diberikan kepada seseorang yang memberinya tugas di luar kemampuan dan keinginannya tetapi bisa dilaksanakan dengan baik, tidak hanya dapat dipandang sebagai sebagai prestasi tetapi sebuah kemenangan kasih.

Dalam refleksi ini kita mau menyorot lebih tajam, kehidupan seorang wanita yang sangat bertanggung jawab. Maria wanita dari Nasaret, yang kesederhanaannya mengagumkan.Wanita yang kuat dan perkasa yang karena kekuatan dan keperkasaan imannya menjadikannya sosok yang sangat berbahagia.

Maria, wanita yang sangat bertanggung jawab ini, dalam ranah tertentu dapat disebut seperti seorang pemimpin. Karena semangat pemimpin adalah bertanggung jawab atas semua yang menjadi tugas, kewajiban dan wewenangnya. Seorang pemimpin yang setelah merespon harus memiliki kemampuan, kesanggupan untuk bertindak. Maria memiliki kemampuan itu setelah berani merespon tawaran Allah melalui malaikat Gabriel dengan fiatnya.Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.

Meski dapat kita bayangkan bahwa respon yang diberikannya tidak memiliki jaminan apa-apa di masa yang akan datang dan Maria mungkin tidak memiliki kemampuan visioner sebagaimana yang harus dimiliki oleh pemimpin-pemimpin besar dunia, tetapi Maria memiliki antene iman dan kasih yang besar pada Allah. Maka seluruh tindakan hidupnya, setiap pilihan yang diputuskannya dia berusaha mengikuti antene imannya yang berasal dari intuisi batinnya yang hening dan budinya yang bening.

Kita sering mendengar firman, orang yang setia dan bertanggung jawab terhadap hal-hal kecil, akan diberikan tugas dan tanggung jawab dalam hal-hal besar. Kita semua meyakini, bahwa tugas untuk menjadi Ibu Juruselamat adalah tugas yang maha besar. Barangkali dapat kita katakan, keberanian Tuhan memberi Maria tugas sebesar itu, karena Dia yang maha tahu yang menyelami batin dan menenun pikiran dalam akal budi, tahu bahwa dalam segala hal secara sempurna Maria setia pada-Nya.

Wanita ini berani menerima tugas maha besar itu. Jawaban fiatnya yang heroic tidak dimulai dari kesanggupannya karena merasa bisa sebagaimana terjadi pada para pemimpin kita yang sadar betul akan kemampuan dirinya. Tetapi wanita ini merespon tawaran Allah, diawali dengan kesadaran diri sebagai hamba yang hanya tahu apa yang harus dilakukannya menurut kehendak tuannya. Maka bisa kita pastikan bahwa rasa tanggungjawabnya muncul dan memampukannya sanggup melaksanakan semua yang dikehendaki Allah semata-mata karena ketergantungannya secara penuh, utuh pada Allah yang sangat dipercayainya sebagai sosok yang menjamin seluruh hidupnya dan tidak akan mengecewakannya.

Wanita ini bertanggungjawab atas tugasnya sebagai ibu yang dari hakekatnya dapat mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing.Wanita ini tahu, bahwa saat mengandung adalah saat terpenting untuk menjaga kandungannya karena sejak dalam kandungan si janin sudah dapat merasakan semua yang sangat menentukan kehidupan janin di kemudian hari. Karena itu, wanita ini mengatur pola pikir, pola rasa dan tindakannya sebaik mungkin agar suasana ini mendukung perkembangan janin dalam rahimnya. Wanita ini membawa janin dalam kandungannya menyusuri daerah yang cukup jauh untuk mengunjungi saudaranya Elisabet untuk berbagi kasih dan kegembiraan dan melayani saudaranya yang sedang membutuhkan pertolongan. Penginjil Lukas mencatat, pertemuan kedua wanita, Maria dan Elisabet membawa sukacita yang besar bagi kedua janin, Yesus dan Yohanes dalam rahim mereka.

Menarik untuk kita renungkan, sejak masih dalam rahimnya Maria telah menanamkan semangat berbagi kegembiraan dan sukacita, semangat missioner kepada janinnya. Secara manusiawi kita katakan, tidaklah mengherankan jika Yesus nantinya berkembang menjadi seorang manusia yang berkeliling sambil berbuat baik dan mewartakan yang baik. Tanggung jawab wanita ini sebagai ibu telah dimulai sesaat setelah dia berani merespon tawaran Allah.

Ketika si janin masih dalam rahim dan bahkan sudah sampai genap waktunya untuk melahirkan, wanita ini bersama Yosep suaminya tetap bersikukuh taat pada peraturan pemerintah bangsanya untuk mengadakan sensus penduduk di daerah asalnya, Betlehem. Bisa dibayangkan, banyak kesulitan dalam perjalanan.Wanita yang bertanggungjawab ini, tidak memikirkan dirinya sendiri. Bersama suaminya, dia tunjukan rasa tanggung jawabnya sebagai seorang warga Negara, taat dan patuh pada peraturan, bahkan tidak meminta kemudahan atau dispensasi, seperti yang biasa kita lakukan.Perjalanan panjang, melelahkan,menanggung kesakitan dan penderitaan berani ditempuh. Wanita ini secara tidak langsung mengajarkan dan menularkan semangat juang, keberanian untuk bertahan dan menderita kepada si janin. Tidak mengherankan ketika dewasa secara manusiawi dapat kita pandang, kekuatan dan ketahanan Yesus untuk memikul salib yang berat dalam perjalanan menuju Golgota telah mulai terbentuk dan terlatih sejak dalam kandungan ibu-Nya.

Wanita ini telah menularkan dan mengajarkan kemampuan-kemampuan tertentu kepada Puteranya sejak dalam rahimnya. Tidak cuma itu, dalam dua perjalanan panjang semasa wanita ini mengandung yakni ke Yehuda dan menuju Betlehem, tiada hentinya wanita ini mengelus perutnya dengan penuh kelembutan, mengajak bicara bayinya yang sesekali bergerak – gerak dalam rahimnya. Wanita ini bercerita tentang pemandangan indah, tentang pohon dan burung,matahari yang bersinar dengan terik dan harus berteduh. Wanita ini bercerita kepada bayi dalam rahimnya tentang orang yang lalu lalang di sekitarnya, tentang pemilik penginapan yang menolak mereka untuk berteduh dan menenangkan bayinya supaya bersabar dan tidak cepat-cepat keluar, karena masih ada cukup waktu. Wanita ini sambil mengelus perut berkisah tentang usaha ayahnya untuk mencari tempat yang layak bagi mereka untuk beristirahat. Mengajak bayinya berdoa agar Tuhan menolong dan menyelamatkan mereka. Setelah mendapat tempat untuk beristirahat meski cuma sebuah kandang hewan, wanita ini mengisahkan kepada bayinya yang sesaat lagi akan keluar untuk berdoa dan bersyukur bahwa masih ada tempat bagi mereka untuk berteduh. Wanita ini mengajak bayinya bersyukur bahwa mereka telah tiba dengan selamat dan sudah mendapatkan tempat yang nyaman. Dan bayi pun lahir. Dapat kita bayangkan dengan tangisan kegembiraan dan sukacita karena menemukan semua yang nyaman sebagaimana telah dikisahkan ibunya dalam perjalanannya.

Luar biasa sikap tanggung jawab wanita ini. Tidak heran jika di kemudian hari kita menemukan betapa Yesus putera Maria, berkembang menjadi seorang manusia yang sangat sabar, memandang dengan penuh kasih dan kelembutan, tidak punya tempat untuk meletakan kepala dalam perutusan-Nnya. Patuh dan taat pada peraturan untuk membayar pajak. Dia mudah tersentuh dan hati-Nya penuh dengan belaskasihan, karena rekaman pengalaman hidup semasa dalam rahim ibu-Nya sangat baik dan mempesona.

Wanita ini bukan pemimpin tetapi tanggungjawabnya melebihi pemimpin di dunia ini. Sebagai ibu, wanita ini sangat telaten dan memberi yang paling baik untuk anaknya sejak dalam kandungan. Kelihatannya sangat biasa, tetapi tanggung jawab besar sebagai ibu sebagaimana ibu-ibu lain yang seharusnya demikian, mendidik, membimbing dan memberikan segala nutrisi rohani dan jasmani yang baik untuk anaknya.

Bagaimana mungkin kita tidak mengagumi seluruh tindakan tanggung jawabnya. Belum apa-apa yang dapat kita renungkan. Baru dalam rahim, bagaimana kisah selanjutnya dapat kita bayangkan sendiri. Kalau kita mengira bahwa yang bertanggung jawab atas hidup ini, adalah mereka yang dipercaya sebagai pemimpin, pembesar, petinggi, sesungguhnya kita salah besar. Siapapun, yang telah menerima kepercayaan untuk hidup di dunia ini, memiliki tanggung jawab besar untuk memperkembangkan hidup sesamanya, tidak peduli siapapun dia. Berbahagialah ibu-ibu yang mengandung yang memiliki kesempatan untuk memperkembangkan hidup anaknya sejak dalam kandungannya. Berbahagialah kita yang mungkin belum atau tidak punya kesempatan untuk mengandung tetapi memiliki kesempatan untuk mewartakan bahwa tanggung jawab kita harus sudah dimulai sejak kita menjawa ya terhadap sebuah tawaran kehidupan. Semoga Bunda Maria mendokan kita menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas panggilan hidup kita masing-masing.***

BERHARAP AKAN JANJI_NYA

Setiap manusia yang berakal budi diberikan kesempatan untuk memilih pilihan sesuai yang dianugerhkan kepadanya dari semula. Begitu pun aku. Aku hadir di dunia melalui orang tuaku. Aku membawa wajah dan sifat-sifat mereka dalam diriku. Aku bertumbuh dan berkembang dalam asuhan mereka dan dalam perjalanan hidup mulai tahu memilih dari hal-hal kecil, tahu yang enak dan tidak enak. Dari mereka aku belajar mengenal dan memilih mana yang baik atau bukan.

Seiring bergulirnya waktu, pola pemikiran dan nilai-nilai hidup yang tertanam dalam diriku semakin membantu aku untuk berani menilai hal-hal yang baik dan buruk dalam usiaku yang beranjak remaja.Fase perkembangan pikiran kian menuntut adanya kejelasan identitas diriku. Siapa dan bagaimana aku ini. Aku mulai memikirkan makna hidupku dan apa yang harus kulakukan untuk mengisi hidupku.

Dengan berbagai pertimbangan, aku memutuskan untuk mencari makna hidup yang mendalam dengan sebuah komitmen yang konsekuensinya sekali pilih dan diputuskan untuk seumur hidup. Dengan mau dan sadar akan konsekuensinya aku memilih hidup membiara. Bukan tanpa perjuangan dan pemikiran yang matang untuk mengambil sebuah keputusan sepenting ini. Bila kucoba melihat ke belakang, apa yang kurang di sana? Di luar sana, aku bisa bebas tanpa batas dan dapat melakukas sesuatu semauku.

Namun, aku telah mendengar bisikan suara hatiku yang kupercayai sebagai suara Tuhan yang memanggilku tiada henti. Aku mau, aku rindu, aku merasa kosong dan aku haus. Aku butuh sesuatu atau seseorang yang mampu melegakan kehausan jiwaku. Seperti magnet, hatiku ditarik dengan kuat oleh suara itu. Suara yang selalu menggoda dan menantang aku. Aku percaya akan sabda-Nya.Aku percaya akan janji-Nya. Aku berharap langkahku tidak keliru dan suara itu tetap menuntun perjalanan hidupku. Aku berharap pada kepenuhan janji-Nya dan aku percaya aku tidak akan dikecewakan. Aku percaya dan berharap, selalu berjalan bersama-Nya, yang membawa aku hidup dalam harapan yang penuh dan utuh bahwa janji-Nya nyata seperti pelangi sehabis hujan yang selalu indah pada waktunya dan memberikan kebahagiaan.***M’Lina.

TEGUH DALAM PENGARAPAN

Perjalanan yang diarungi

Seiring suka dan duka silih berganti

Kegagalan dan keberhasilan

Tak terhitung searah meningkatnya usia

Putus asa manghampiri yang tak berdaya

Hilang harapan tak ada jalan

Akhirnya tak jarang

Banyak yang mengambil keputusan

Yang membawa kehancuran

Sahabat,’

Hidup adalah harapan

Janganlah salah menempatkan

Antara angan-angan dan realita

Sebab harapan tak akan bermakna

Jika hanya berharap namun tak berbuat apa-apa

Majulah dalam pengharapan

Kasih Tuhan mampu mematahkan putus asa

Cinta Tuhan mampu membinasakan kegagalan

Kuasa Tuhan sanggup mangalahkan resah

Tuhan menyediakan jalan pengharapan

Berjuanglah meraih hidup penuh makna

Teguh dalam pengharapan

Tak goyah oleh angin perasaan

Tak layu oleh kerasnya kehidupan.***Stephani