Kamis, 20 September 2012

BERUBAH DAN BERBUAH



Rekonsiliasi berarti berubah. Berubah  berarti memulai sesuatu yang baru.Memulai sesuatu yang baru ditandai dengan keberanian penuh kesadaran meninggalkan masa lalu yang  nyaman  namun suram menuju kepada  masa depan, hari baru  yang penuh ketentraman dan  kedamaian meskipun penuh tantangan  dan butuh pengorbanan.
Kita  semua memiliki pengalaman mengampuni sesama dan diampuni.Acap kali kita lebih merindukan diri kita  dipahami, dimengerti, dimaafkan sesama bahkan kesalahan kita  dilupakan, ketika kita berbuat  salah. Namun tidak jarang, ketika orang lain yang bersalah pada kita, tidak mudah bagi kita untuk mengerti, memahami, mengampuni dan  melupakan kesalahan sesama. Perilaku hidup kita kadang  tidak fair.
Kadang pengalaman sederhana yang dialami sesama  dalam mengembangkan sikap rekonsiliasi penuh kasih, menginspirasi kita untuk berubah. Bisa juga pengalaman sederhana kita  dalam memberi kesempatan kepada  orang lain yang kita ampuni, bisa menginspirasi sesama kita.Kita sering bercermin dan meniru sikap dan perilaku sesama dalam hal yang baik maupun yang kurang  baik. Tidak ada kans  untuk menuju rekonsiliasi sejati, kalau kejahatan dibalas  dengan kejahatan, kekerasan dengan kekerasa, gigi ganti gigi, balas dendam supaya sama-sama merasakan penderitaan. Tidak, untuk orang beriman yang menaruh harapan pada Tuhan.
Pertobatan orang beriman tidak sekadar  rangkaian kata-kata indah tetapi dikonkretkan dalam kehidupan yang nyata. Bertobat harus  lahir  dari kedalaman hati yang tulus, wujud iman  dan kasih kepada Tuhan.Meski sulit  untuk mewujudkan pertobatan dan rekonsiliasi sejati, bagaimanapun harus  tetap diupayakan, dihayati dan dihidupi.  Sekecil apapun usaha  kita menuju rekonsiliasi  sejati, pasti ada buahnya, karena  rahmat menjadikan hidup kita berubah dan berbuah. Rekonsiliasi sejati menghasilkan perubahan batin dan berbuah  kasih.  *** Eli

BILA


Bila  engkau tidak bisa menjadi
Seperti pohon mahoni di hutang  lindung
Jadilah seperti bunga bakung yang indah
Dipadang  hijau
            Bila engkau tak bisa menjadi
            Bunga bakung di padang
            Jadilah seperti tanaman putri malu
            Yang memperindah jalan setapak
Bila engkau tak bisa menjadi
Seperti ikan mas koki
Jadilah seperti mujair yang lincah
Di dalam kolam
            Bila  engkau tidak bisa menjadi
            Seperti penabuh genderang  perdamaian
            Jadilah seperti pemain seruling
            Untuk menyemarakan  alam yang indah
Bila engkau tidak bisa menjadi
Seperti pasukan penjaga  perdamaian
Jadilah seperti barisan anak-anak yang gembira ria
Untuk  menghibur hati orang tua mereka
            Bila engkau tidak bisa menjadi
            Seperti para  pemahat karya seni
            Jadilah seperti pembeli karya seni
            Yang mengagumi keindahan dunia ini
Bila engkau  tidak  bisa menjadi
Seperti rajawali yang bisa  terbang  tinggi
Jadilah seperti  burung  pipit
Yang menyemarakan cerahnya pagi dengan kicauannya
            Bila engkau  tidak bisa  menjadi  tuan
            Jadilah hamba yang setia
Sebab  apapun di dunia  ini
Ada  ukuran dan takarannya
Ada maksud  dan tujuannya
Bila engkau menghendaki  kedamaian hati
Jangan meninginkan apa yang tidak layak untukmu
Kenakanlah  apa yang tepat untukmu
Peganglah  yang teraih olehmu
            Asal Allah dimuliakan dalam hidupku
            Asal hatimu tidak tersandung kebencian dan dendam
            Asal damai jadi milikmu***

KADANG


Kadang…
Dalam kekuatan
Dalam kesuksesan
Dalam keberuntungan
Tidak ada lagi tempat  bagi-Nya
            Semua seakan berjalan begitu saja
            Semua seakan memang  sudah seharusnya
            Semua seakan dapat berjalan tanpa-Nya
Kadang…
Dalam kelemahan
Dalam kegagalan
Dalam permasalahan dan derita
Ada tempat yang cukup luas bagi Tuhan
            Adakah Tuhan menghendaki kelemahan?
            Adakah Tuhan menghendaki kegagalan?
            Adakah Tuhan menghendaki permasalahan dan derita?
Atau…
Dia hanya minta 
Sebuah tempat  di hati yang cukup luas
Bagi Dia  dalam hidup kita
            Saat ini…
            Entah berhasil atau gagal
            Entah kuat atau lemah
            Entah berutung  atau malang
Sediakan tempat  bagi-Nya
Untuk menyatakan kasih dan kuasa-Nya.***

BERILAH KAMI DAMAI



Seorang guru sekolah minggu bertanya  kepada murid-muridnya: “Apa yang biasa kalian mohonkan setiap hari ketika bangun pagi”? Jawaban muridnya bervariasi tergantung  dari pengalaman kesehariannya.Ada yang menjawab, mohon sehat  dan selamat, dilindungi dan dijaga. Ada yang memohon berkat  agar  diberi segala kemudahan  dalam belajar, dilindungi dalam perjalanan dan dibebaskan dari  segala  yang  jahat. Ada yang  memohon  nilai  yang bagus waktu ulangan, diberi uang  jajan yang banyak oleh  orang tuanya.  Ada  seorang  anak   dengan malu-malu menjawab,  mohon  hati yang damai dan tenang. Sang  guru sangat  tertarik dengan jawaban anak yang  agak berbeda  dari teman yang lain dan bertanya  pada  si murid: “Mengapa  mohon hati yang tenang  dan damai?” Si anak menjawab, karena  dia  tidak suka mendengar  setiap hari  papa dan mamanya  rebut terus, mama marah-marah pembantu, papa  marah-marah kepada  sopir. Dalam telepon papa juga bersuara keras-keras, bahkan bentak-bentak. Si anak selalu ketakutan dan merasa  tidak aman.  Sang  guru menjadi mengerti rupanya   si anak  merindukan ketenangan, kenyamanan karena  situasi  di sekitarnya bahkan  yang dialami oleh orang-orang yang dicintainya  tidak nyaman, dan karena itu hatinya juga  tidak nyaman.
Penggalan kisah  ini banyak  dialami  di tengah  lingkup keluarga dan komunitas  kita. Tidak seorang pun yang berharap  ketika  pagi hari, sudah terdengar keributan, tidak ingin menyaksikan pengalaman kekerasan  dan tidak menyukai berita-berita  dalam mas  media yang menyuguhkan  tindakan kriminalitas  dalam berbagai bentuk yang membuat  hati  tidak nyaman dan was-was sepanjang  hari. Apalagi akhir-akhir ini marak  berita   kecelakaaan lalulintas  akibat  kelalaian  yang merenggut  nyawa banyak orang, yang sebetulnya  bisa  terhindarkan.  Orang mulai berpikir  dan berkata : “ Berkendaraan di jalan bagaimanapun hati-hati, ditabrak orang. Naik pesawat semakin tidak nyaman karena  ada oknum pilot  yang mengkonsumsi narkoba. Berjalan kaki di  trotoar  bisa  ditabrak orang, naik bus, kecelakaan masuk jurang, berlayar  di laut  dengan kapal, angin kencang  dan terancam tenggelam, tidur  di rumah pun bisa mati mendadak.” Di mana saja, kapan saja, di bumi ini  nampaknya  sudah tidak ada lagi tempat  yang nyaman untuk dihuni dengan penuh ketentraman dan  kedamaian. Benarkah, di  bumi ini sudah tidak ada lagi tempat  yang nyaman untuk dihuni?
Tidak cuma sekadar  kerinduan
Damai…damai… Peace! Dirindukan oleh semua makluk penghuni bumi ini.  Seruan damai  dikumandangkan di mana-mana terutama kepada  tempat, Negara, bangsa  atau sekelompok orang yang  sedang berseteru. Dendang damai  dalam hati, dilantunkan  tanpa  suara  sebagai  sebuah  permohonan doa  yang tak kunjung putus  dipanjatkan ke hadirat  Allah Penguasa  kehidupan oleh setiap  makluk, setiap manusia yang menyapa-Nya dengan nama masing-masing. Sorotan mata  menanti perlindungan terhadap ancaman tidaknyamanan dari anak-anak dalam keluarga dan masyarakat  kita, sepertinya semakin tajam. Tidak hanya  damai  yang dapat  sungguh  dirasakan dan dialami dalam hati  sanubari tetapi juga kerinduan akan ketentraman yang dapat dirasakan  dan dinikmati di sekitar  lingkungannya. Damai  di  hati, tentram di bumi,  tenang  di dunia, bahagia  di surga.
Ada banyak hal yang menghambat kedamaian yang dirindukan dan diharapkan terwujud. Antara lain konflik yang  terjadi  tak terhindari. Dikarenakan  ada banyak muatan kepentingan individual dan golongan di dalamnya. Ketika  seseorang atau sekelompok orang berniat memenuhi kebutuhan atau bahkan keinginannya tanpa mempedulikan sesama dan lingkungannya, maka  konflik  dengan mudah terjadi. Ketika  kerinduan akan  ketenangan dan kedamaian, digilas  oleh  hasrat  untuk  menguasai sesama dan alam sekitar, konflik  tentu akan hadir.  Ketika  orang tua  hanya  sibuk dengan urusan pekerjaannya dan kurang menaruh hati penuh kasih pada anak-anaknya bahkan  konflik batin pun terjadi.  Stimulus konflik dari pihak tertentu akan mendapat  respon dari pihak lain, yang  menyulut  membaranya kobaran  konflik yang sering kali berujung pada   penderitaan.
Lebih dari itu, kita mengamini bahwa  kerinduan  akan damai  menjadi sulit  terwujud tidak hanya  berpangkal  dari konflik  tetapi  secara interen berasal dari diri sendiri. Banyak dari kita tahu  bagaimana harus  hidup damai, tetapi  sering  tidak begitu tahu bagaimana  cara yang tepat  untuk membuat  suasana  damai entah itu di rumah, dalam komunitas dan di manapun. Kerinduan yang tidak disertai dengan upaya   kuat  untuk berdamai baik dengan diri sendiri, sesama, lingkungan sekitar  dan berdamai dengan Tuhan,  memang  sering membawa kita  pada situasi  yang kurang  damai.  Ada konflik dengan tingkat  ringan beratnya  berbeda-beda. Rindu  damai  tidak cukup  untuk hidup, perlu dimohonkan dengan tidak jemu-jemu dan diupayakan dengan sekuat kemampuan.
Damai  perlu  dimohonkan
Hari pertama  pada  setiap awal tahun  diabadikan sebagai Hari Perdamaian  Sedunia.Bahkan  Gereja  juga mempersembahkan hari pertama ini  sebagai  hari penghormatan khusus  bagi  Bunda Maria  sebagai  Santa Bunda  Allah.  Tentu  ada maksud  mulia  di balik semua peristiwa  itu yang bagi kita  kaum sederhana  dapat   menggali maknanya  yang mendalam. Bunda Maria  juga mendapat  banyak gelar  diantaranya sebagai Ratu Pencinta Damai,  Regina Pacis. Bunda Maria, Sang  Ratu perdamaian, dihadiahkan  dan dimuliakan oleh Allah yang dihormati dan dijunjung  tinggi oleh Gereja, menjadi  sosok  yang layak  dijadikan tempat  pengaduan  nasib bagi putra-putri  Allah yang merindukan perdamaian.
Meskipun ada banyak cara dan jalan untuk memohon dan kepada  siapa  kita  harus memohon, kita meyakini dalam iman, bahwa  Maria, sang  Ratu Damai   dapat menjadi perantara  bagi kita untuk menyampaikan doa  dan harapan kita kepada  Yesus  Kristus Putera-Nya  Raja  Damai. Maka  kalaupun  ada yang merasa  di bumi ini tidak ada tempat  yang membuat  hati damai dan tentram, setidaknya masih selalu ada  tempat  bagi orang  beriman  untuk berharap akan mengalami kedamaian.
Banyak orang telah memberi kesaksian, bahwa  meskipun terlilit  problem  hidup yang berat dalam keluarga, dalam  bermasyarakat, dalam  berusaha dan berkarya, dalam membangun relasi  dan hubungan dengan sesama, ketika hati  sedang gundah, pikiran sedang  kalut, merasa sendirian dan terasing, ketika  berani  berhadapan dengan Bunda  dan menceritakan kepadanya, hati menjadi tenang  dan nyaman, pikiran menjadi lebih jernih, pandangan semakin luas, dada semakin lapang  dan kedamaian hati  dapat  dirasakan. Bisa  dimengerti, di dunia ini  kita membutuhkan sepasang  hati yang siap mendengar   tanpa komentar, yang selalu setuju tanpa membantah, yang setia menemani tanpa merasa terbeban, yang sungguh bisa  dipercayai  menyimpan rahasia hati tanpa membocorkannya, hanya  dapat  ditemukan dalam sosok  seorang Ibu  yakni Maria  Bunda Yesus.
Kita percaya  kita  dapat memperolehnya ketika  sering  memohonkannya. Kepada yang setia memohonkan, Tuhan berjanji akan memberikannya. Maka  seruan  “Tuhan, berilah kami damai, mesti menjadi seruan permohonan yang tiada putusnya  dipanjatkan kepada  kehadirat Allah.
Dalam perayaan Ekaristi sesaat  sebelum bersatu dengan Kristus  dalam  penerimaan komuni, imam bersama umat menyerukan  doa kepada Kristus, Sang Anak Domba  Allah, kasihanilah kami  dan berilah kami damai. Sangat  diharapkan persatuan dengan Kristus, membawa  kedamaian  yang langgeng  dalam hati batin.
Kesadaran  untuk berdamai 
Kedamaian  mahal harganya, harus dibayar  dengan pergumulan batin dan pengorbanan  untuk keluar  dari diri sendiri.  Meski demikian,kedamaian  dapat  dialami, dirasakan secara  perlahan-lahan, dalam batin yang tenang  dan murni. Kedamaian dapat  terwujud secara perlahan dalam rumah tangga dan komunitas  kita masing-masing. Kedamaian dapat  terwujud antara kita  dan lingkungan ketika  kita berkenan memberi  tempat  di hati kita bagi sesama dan lingkungan hidup kita. Kita semakin mengerti dan sadar,  alam dan lingkungan sekitar kediaman kita  kelihatan menjadi  kurang  ramah dan bersahabat  karena ulah  kita manusia  yang tidak mau berdamai dengan alam. Membuang  sampah sembarang  tempat sehingga ketika turun hujan, seloka menjadi tersumbat  dan terjadi genangan air. Ketika penebangan hutan untuk membuka  lahan atau daerah  penambangan  tidak disertai  upaya reklamasi.  Cuaca  yang tidak menentu, polusi  udara, polusi  suara, polusi air  yang membuat  kita tidak nyaman, terserang  wabah penyakit, diserang bencana alam secara tiba-tiba, juga  salam satu penyebabnya  adalah kita kurang berdamai  dengan alam sekitar  kita.
Tidak banyak dituntut  dari kita  untuk  berdamai dengan manusia  dan alam sekitar. Cuma  sebuah  kesadaran dalam diri  untuk menjaga keseimbangan ekosistem dalam komunitas  di mana  kita berada. Menjaga kelestarian mata rantai kehidupan  dalam lingkungan kita  sebagai habitat  tempat  makluk hidup saling  bergantung. Bagaimana kita berharap  sehat  walafiat, sementara  konsumsi oksigen  yang sangat  ditubuhkan tubuh  kurang seimbang karena  tiadanya pohon-pohon hijau di sekitar kita. Ketika  kita  kurang menaruh kasih yang sungguh dalam hati sebagai  sumber  kedamaian, konflik  akan terjadi  dan penderitaan pasti akan kita  alami.
Ada banyak  hal dalam hidup ini, yang tidak dapat  kita kuasai sendiri  dan lakukan sendiri tanpa  orang lain.  Tetapi dalam iman, kita  percaya, dalam situasi apapun, ketika kita  berharap pada Tuhan, kita  akan menerimanya. Mungkin tidak untuk seluruh dunia, tidak untuk orang-orang, setidaknya  hati kita sendiri  dapat  merasakan, ketentraman, ketenangan dan kedamaian. Kita  tetap mampu  hidup  dan melakukan aktivitas, tetap mampu bersyukur  dan berharap,  dan tidak putus  asa di tengah dunia  yang semakin tidak nyaman.
Menjadi  Pribadi  Pembawa  Damai
Sangat  indah doa damai yang  sangat  terkenal, yang dihapal oleh banyak orang dan telah menginspirasi hidup banyak orang untuk bertahan dalam situasi  sulit  dengan harapan iman yang kokoh . “Tuhan, jadikanlah aku pembawa  damai, bila terjadi kebencian, jadilah aku pembawa  cinta kasih. Bila terjadi penghinaan, jadikan aku pembawa pengampunan.Bila terjadi perselisihan, jadikan aku pembawa kerukunan.Bila terjadi  kebimbangan, jadikan aku pembawa kepastian.Bila terjadi kesesatan, jadikan aku pembawa kebenaran.Bila terjadi kecemasan, jadikan aku pembawa harapan. Bila terjadi kesedihan, jadikan aku sumber  kegembiraan.Bila  terjadi  kegelapan, jadikan aku pembawa terang. Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur, daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai.Sebab dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni aku diampuni, dengan mati suci aku bangkit lagi untuk hidup selama-lamanya. ( Puji Syukur No. 221)
Meski  kelihatannya  tidak mudah untuk dilakukan, tetapi  tidak begitu  rugi bila  coba didoakan, tentu dalam suasana tenang dan hening  dan coba diniatkan  dalam batin dan dipancarkan melalui perilaku hidup. Sungguh, kedamaian itu bisa  terwujud. Memang, soal damai  tidak seorangpun yang dapat membuat  dunia ini  berubah nyaman dalam waktu singkat, tidak seorangpun yang punya  cukup kekuatan dapat meyakinkan  sesamanya  untuk selalu hidup dalam damai.. Tidak semua  orang  berkenan  menjadikan dunia ini damai. Bahkan Tuhan saja  tidak menjanjikan hidup kita akan aman-aman dan damai saja. Tapi Tuhan menjanjikan penyertaan-Nya sepanjang masa. Dunia  ini milik kita bersama, yang dengan penghayatan kehendak bebasnya setiap kita  berusaha  menghidupinya.
Janji Tuhan  yang kita  percayai selalu pasti, bahwa  kita  didampingi, ditopang, ditolong, disertai sampai akhir  jaman. Entah  keadaan baik, entah keadaan buru, entah  dunia  kacau atau damai, Tuhan tetap selalu bersama kita. Kita  mungkin tidak perlu menjadi   duta damai  di tempat yang sedang terjadi konflik. Atau menjadi pasukan perdamaian  di  luar  negeri. Tetapi  menjadi  duta  damai  di tengah  keluarga, di  tempat  kerja, di jalan, di rumah, di sekolah, di pasar, di mana saja kita  berada.Kalau  setiap kita   dalam rumah tangga dan komunitas  sudah menjadi duta  damai  akan lebih  membahagiakan kita  seperti sebuah  pasukan perdamaian  di mana saja kita  berada. Maka  seruan, Tuhan berilah kami damai, yang selalu kita  mohonkan, sungguh akan menggema di hadapan Kristus Sang Anak Domba, yang akan mampu menggoncangkan tahta  surga  dan rahmat  perdamaian dari Allah, akan tercurah ke atas kita  bagaikan  hujan rahmat  yang menggenangi bumi.***hm

Jumat, 14 Oktober 2011

UNTUK SEBUAH NAMA

Untuk sebuah nama

Aku belajar untuk berani mencari yang hilang dari diriku. Meski semula aku tak tahu kalau sejak awal aku telah kehilangan semua dan banyak yang sangat mempengaruhi hidupku selanjutnya.

Untuk sebuah nama

Aku juga telah terlalu berani berjalan dalam tantangan hebat yang menekan seluruh rasa dan keberadaan. Yang bagaikan berani menyebrang sungai yang berarus deras dengan resiko terbawa arus atau tenggelam.Tapi syukur buat kemuliaan Tuhan, tidak pernah aku sampai tenggelam meski ada saat ketika terseret arus deras namun terhempas pada muara yang masih menguntungkan. Meski rasanya jadi perut kembung karena terminum air kotor itu dan harus menanggung penyakit-penyakit gara-gara itu, tetapi harus ditanggung karena sudah terlanjur.

Untuk sebuah nama

Aku juga telah rela melepaskan banyak yang menyenangkan rasa, yang menggelitik nuraniku, yang memancing emosiku untuk memilih pergi atau tinggal. Berdiam diri atau berangkat. Yang bagi orang lain mungkin soal kecil tidaklah butuh banyak pertimbangan, Namun bagiku, pilihan untuk berdiam di rumah atau pergi adalah masalah besar. Menjadi besar problemnya, karena kukenal diriku bukan orang rumahan yang betah berlama-lama di rumah sepanjang hari dan malam. Banyak waktu pilihan sering kali salah, karena kakiku tidaklah sekuat kemauanku untuk tinggal. Semudah aku memutuskannya, semudah itu pula kaki melangkah.Dan tahukah Anda bahwa setiap kali ketika telah melangkah jauh, aku selalu akan berjalan pada jalan yang salah dan selalu menyesal dan memutuskan untuk pulang.Kembali ke rumahku yang sebenarnya adalah tempat yang paling nyaman dan aman untukku.

Untuk sebuah Nama

Aku akhirnya harus berlelah-lelah untuk menarik kembali kaki yang telah jauh berjalan dan harus berperang dengan segala yang ada untuk tidak melangkah maju lebih jauh dan semakin jauh meninggalkan rumahku. Bukan waktu yang singkat kelelahan untuk menarik kaki pulang.Dan memang harus pulang. Pada saat yang sama seperti itu, aku harus berpamitan dengan orang-orang baik, di sepanjang perjalanan bersama itu. Orang asing yang kutemukan di sepanjang jalan, kami yang selalu bersama, bersenda gurau dan berbagi bersama entah itu makanan atau cerita yang membuat kami tak begitu merasa lelah dalam perjalanan.

Untuk sebuah Nama

Aku kadang harus membohongi orang-orang asing teman seperjalananku itu, bahwa terlalu ada yang penting dan perlu dan aku harus pulang.Meski mereka berkali-kali melarangku untuk kembali, tidak pernah aku mengikuti permintaan mereka. Aku tidak tahu, sudah berkali-kali selalu sama dan banyak kali orang-orang asing yang baik itu merasa kecewa bahkan ada yang merasa seolah-olah dipermainkan. Tapi syukur, aku tidak terlalu peduli dengan kata orang dan permintaan mereka. Apa yang penting adalah rasa hatiku dan gerakan hatiku yang memerintah aku pulang, aku pasti pulang, apapun alasannya.

Untuk sebuah Nama

Aku mesti selalu pulang sendirian, karena semua orang dan teman-temanku ke sana, aku ke sini. Betapa sedih dan merananya hati, ketika mengetahui bahwa jalan pulang itu, bukanlah jalan yang sama waktu kami susuri dalam keberangkatannya. Tidak tahu, siapakah yang membawaku berjalan pada jalan itu. Mungkin karena terlalu sedih, pandanganku tertutup pada jalan di depanku. Aku hanya tahu bahkan terkejut, ketika tiba-tiba sudah merasa masuk sebuah hutan lebat, sendirian. Di sana ada banyak bunyi-bunyian yang menakutkan, gelap dan pekat dan tiada manusia lain di situ. Ketakutan –ketakutan membuat aku lebih menajamkan indra untuk menghindarkan diri dari kemungkinan bahaya. Sepintar-pintarnya menajamkan indra, bahaya selalu ada karena itu hutan, yang sunyi dan sepi. Memang bukan harimau atau ular juga bukan beruang atau singa yang mengganggu, tapi Cuma semut-semut kecil yang karena saking kecilnya tak nampak olehku dan seenaknya menggigit kulitku. Sedikit sakit dan gatal dan membuatku kesal, benar-benar kesal bahkan bisa marah. Tapi di tengah hutan, siapa yang berani marah?

Untuk sebuah Nama

Berkali-kali keluar masuk hutan lebat dan akhirnya tiba juga di tepian perkampungan yang menjanjikan sedikit harapan. Tersedia semua yang kuperlukan untuk pelepas lelah dan penat meski hanyalah bahan-bahan sederhana. Bahkan sering keberuntungan memihak aku.aku mendapatkan semuanya yang kuperlu tanpa membuang energy atau uang atau ditukar dengan apapun. Namun, bukanlah mudah berada di perkampungan asing, yang tiada henti memandang dengan sorotan mata tajam seolah hendak memangsa dan menyisakan ketakutan yang amat sangat. Rasanya lebih baik berjalan sendirian di hutan daripada di tengah perkampungan dengan taring-taring musuh yang terpasang siap menerkam.

Untuk sebuah Nama

Meski berlama – lama dalam perjalanan, tiba juga aku di rumahku dalam keadaan persis hampir habis batas pertahanan harapanku. Tiap kali aku kembali dalam keadaan semaput, dan tidak sadar siapakah yang memapah dan menggendongku masuk rumah, yang memulihkan energiku dan merawatku cukup lama, sampai aku sembuh. Sembuh dari kesadaran seolah seperti orang yang hilang ingatan, dan baru tahu bahwa sudah lama berada di rumah dan aku tidak sadar kapan kembali dan kini sudah segar lagi?

Untuk sebuah Nama

Aku mencari tahu ke sana kemari, siapa gerangan yang membawa aku pulang? Siapa gerangan yang memaksa kakiku melangkah sendirian dan menempatkan dalam batinku rasa takut yang hebat. Berlelah-lelah aku mencari tahu, tidak pernah ada yang tahu, siapakah dia yang melakukan begitu banyak untuk aku dan selalu berbuat begitu berkali-kali seumur hidupku.

Untuk sebuah Nama

Karena aku tidak mengenal dan melihat dengan mataku, mendengar dengan telingaku dan merasakan dengan intuisi batinku, siapakah dia.Maka aku memberinya nama, seseorang yang tidak punya nama. Dia menolongku saat aku tak sadar aku ditolong, dia menemaniku saat aku sendirian dan merasa tiada teman dan sahabat. Dia memapahku saat tak berdaya.Dia menjagaku saat terlelap tidur. Dia mencarikan makanan untukku saat aku lapar dan tak bertenaga untuk bekerja. Dia menyuapkan aku makanan saat aku tak berselera makan.Dia menggosokan obat pada kakiku yang tergigit semut-semut nakal itu. Dia membersihkan lukaku yang tak terawat dan berkenan membalut dengan perban dan obat yang entah dari mana didapatkannya. Aku tak pernah melihat wajahnya. Tak pernah mendengar suaranya, tak pernah mendengarnya berkisah. Aku tak pernah tahu darimana dia datang dan kemana dia pergi ketika aku sadar aku sudah dalam keadaan baik-baik. Dia datang sendiri tanpa kuundang dan dia pergi dengan bebas tanpa kuusir.

Untuk sebuah Nama

Yang telah melakukan segalanya untukku, aku tidak sanggup meninggalkan rumah ini lagi. Rumahku sendiri yang aku juga tak tahu, siapa yang membangunnya dan siapa yang menyuruh aku tinggal di sini. Aku merasa seolah sejak kecil aku pernah ke sini, tapi tidak kutemukan orang yang kukenal di bumi ini. Meski aku merasa kadang seperti diculik begitu saja, diambil dari duniaku begitu saja, aku senang juga karena di rumah itu ada segalanya. Tetapi, tahukah Anda bahwa di rumah itu aku sendirian, benar-benar sendirian dan banyak yang harus kulakukan tanpa aku tahu sebelumnya tugasku apa. Tahu-tahu hari-hariku banyak kerjaan bertumpuk-tumpuk. Entah dari mana semua itu. Lucunya, aku mau mengerjakan juga. Kadang aku merasa seperti robot, atau sepertinya dirinya sudah dijual kepada orang itu, yang tidak pernah menampakkan wajahnya tetapi selalu ada untuk aku.

Untuk sebuah Nama

Aku mesti tinggalkan segala kesenangan dan hobiku, selera dan teman-temanku.Meski aku kadang marah besar, ketika aku pergi dari rumah itu, tak ada yang melarangku dan rasanya dia setuju saja.memang aku tidak pernah meminta ijin darinya, karena aku juga tidak tahu dia di mana, bagaimana caranya meminta ijin untuk pergi bermain sebentar dan mencoba banyak hal baru di seberang sana. Aku berprinsip kalau tak ada yang melarang dan tidak kepada siapa-siapa bertanggungjawab mengapa meski aku membuang kesempatan untuk bersenang-senang. Tapi, asal Anda tahu saja, tanpa aku sadar mungkin dia membuntuti langkahku, dan tahu semuanya yang kulakukan.Sepertinya dia mengenal siapa teman-teman bermainku, di mana aku pernah singgah. Bahkan sepertinya dia juga tahu, mana teman yang baik, mana yang kurang baik, mana yang memanfaatkan kebodohanku, mana yang mungkin berpeluang menjebakku. Sepertinya dia juga tahu, rasa perasaanku yang kadang ingin menetap di rumah orang karena terpukau oleh keramahan dan keindahan rumahnya serta kebaikan orang-orang si sekelilingnya.

Dan Untuk sebuah Nama itu

Aku juga dengan kasar dibawanya pulang, seperti seorang ibu yang memukul anaknya yang pergi berkeliaran dari pagi, bermain-main lupa makan, lupa belajar, sampai senja tak pulang.Tahu-tahu malam hari kembali ke rumah dalam keadaan takut, karena sudah lapar, haus, lelah, kotor, belum mandi dan mencemaskan ibu di rumah. Sama seperti ibu yang repot mengurus anaknya yang ekstra nakal, yang hanya bertahan 3 hari atau seminggu untuk patuh dengan nasihat sekaligus takut pada ancaman hukuman ibu, tapi sesudah itu pergi lagi bahkan yang lebih jauh lagi. Seperti seorang ibu, yang tidak tertahankan terpaksa harus mencari anaknya, menariknya dengan keras, memukul betisnya dengan kayu, menjewer kupingnya dan menarik tangannya untuk pulang, dan si anak harus malu di depan teman-temannya yang menyaksikan kelakuan ibunya.

Yach… untuk sebuah Nama

Aku harus pulang, setelah diperlakukan berkali-kali seperti ibu yang geram itu pada anaknya. Meski seperti itu, bagiku yang suka bermain, sudah senang sekali, dipukul tak masalah, dijewer tak soal, dipermalukan di hadapan teman-teman juga tak masalah, karena mereka-mereka juga sama diperlakukan ibunya seperti itu, aku sudah sangat bahagia. Sudah bersuka ria dan sempat berhapi-hapi dengan teman-teman. Tentu seperti siksaan ibu pada anak nakal itu, tugasku akan lebih berat supaya aku tidak perlu jalan-jalan, dan aku tidak diberi apa-apa termasuk uang jajan ( kemudahan) untuk berhapi ria. Dan seperti ibu yang menjadi kapok dan terpaksa menjaga anaknya lebih ketat, aku merasa persis seperti anak itu.

Untuk sebuah Nama’

Aku berkali-kali bertanya, siapakah yang seperti ibu anak nakal itu? Aku tidak punya ibu di dunia ini yang memperlakukan aku seperti itu. Siapakah dia itu, yang begitu peduli padaku? Bertanya terus melelahkan dan membuatku sakit parah. Aku memutuskan untuk berdiam diri dan tinggal di rumah saja. Dan tahukah Anda sahabatku, bahwa ketika berdiam diri itu, berhari-hari hampir sebulan, aku baru tahu, siapa kiranya dia yang ada di rumahku.Siapakah dia yang seperti ibu.Aku tahu dan mengenalnya karena ada di rumah dan melakukan apa saja yang menjadi tugasku. Batinku tahu sendiri, dia pemilik rumah itu, dia yang melakukan segalanya untukku.Dia juga yang bisa membalaskan perbuatan orang yang tidak adil padaku, dia yang menyediakan segalanya bagiku. Mau tahu bagaimana aku jadi mengenalnya?

AKU MENGENALNYA, KETIKA AKU BERADA DI RUMAHKU DAN RINDU PADANYA. KERINDUANKU YANG TIDAK PERNAH KUUNGKAPKAN PADANYA, TETAPI KUWUJUDKAN DENGAN MELAKUKAN SEMUA YANG DIKEHENDAKINYA. RUPANYA TANPA AKU MEMINTA, DIA ADA DAN HADIR DI HADAPANKU. DIA SENANG DAN BAHAGIA SEBAB MENEMUKAN AKU SEDANG MELAKUKAN KEHENDAKNYA. AKU JUGA BAHAGIA KETIKA TAHU, BAHWA DIA BISA TERSENYUM PADAKU, DIA TIDAK MARAH PADAKU, JUGA TIDAK MENGHITUNG-HITUNG MASA LALUKU. DIA JUGA TIDAK BERTANYA APA-APA. DIA JUGA TIDAK MALU DENGAN AKU.

SENYUMNYA, BENAR-BENAR MENGHANCURKAN PERTAHANAN HATIKU YANG HANCUR. TANGANNYA YANG SELALU TERULUR MENOLONGKU SANGAT KUKENAL. BUNYI LANGKAH SUARANYA SAAT MENEMANIKU BERJALAN DALAM KESUNYIAN DI HUTAN, SAMA DENGAN BUNYI LANGKAH YANG SAMA DI SINI. MESKI CUMA SEKILAS KUCERMATI WAJAHNYA, KETIKA FAJAR BARU MENYINGSING, AKU SUDAH TAHU SIAPA PEMILIK NAMA ITU.

NAMA YANG INDAH , YANG TIADA SEORANGPUN MENYAINGINYA. SENYUM MENAWAN YANG SANGAT MENGGODA DAN YANG ADA PADANYA, RUPANYA SEMUA YANG KUPERLUKAN DAN KUCARI SELAMA INI. JADI, KUPUTUSKAN, AKU TINGGAL DI SINI SAJA. MESKI HARUS SENDIRIAN, TAPI KUTAHU DIA TAK PERNAH TINGGALKAN AKU DAN DIA MENYEDIAKAN SEGALA YANG KUPERLU. DIA CUMA BUTUH AKU MELAKUKAN TUGAS YANG DIBERIKAN, YANG TIBA-TIBA SETIAP DETIK BEDA-BEDA DAN AKU TIDAK TAHU JELAS DIA MAU APA.

Sahabatku,

Sekiranya Anda mengerti ini, berbahagialah, sebab Nama itu tidak cuma sangat dikenal olehmu, tetapi aku tahu dia sahabatmu dan selalu bersamamu.

Untuk sebuah Nama itu

Rindu tak pernah pudar.Ke manapun pergi pasti akan kembali. Bagaimanapun besarnya pemberontakan, pasti akan taat. Meskipun marah, akan mengampuni. Meskipun kesal, akan selalu memberi kesempatan. Kalaupun hilang, akan tertemukan, kalaupun terjual, akan tergantikan. Karena Nama itu, hidup dalam batinku. YESUS, SAHABAT dan KEKASIHKU adalah pemilik NAMA itu.*** resume refl.h.martine

TETAP BERHARAP

Kasih Tuhanku,

Terlalu naïf bagiku untuk membayangkan masa-masa yang telah lewat dalam rajutan cinta yang sulit terlepas yang menandai jalan-jalan sempit dan berkelok-kelok yang telah menawarkan sejuta kepuasan dari dahaga hati yang tak tertahankan. Aku termangu dalam keterposanaan baru yang tidak ada sesuatu pun menghalangi aku untuk merebut semua yang pernah kuimpikan dan kubayangkan dalam hari-hari kelam penuh keraguan.

Aku menerima dengan penuh kesadaran apa yang perlu buat hidupku dan hidup orang lain, dalam kebebasan dan keleluasaan

Kasih Tuhanku,

Sepertinya ada banyak jalan yang terhampar di depanku. Terlalu banyak dan berkelok-kelok. Sepertinya belum pernah kususuri, sungguh belum pernah.Hari – hari merupakan hari yang selalu baru, sesungguhnya jalan-jalan adalah jalan yang juga baru. Seandainya aku tahu dari dulu, mungkin aku tidak begitu berani menyusuri jalan ini, Sungguh aku melewati jalan ini, karena sepertinya didorong sedemikian rupa untuk melewatinya dan tak disangka terlalu banyak hal yang terhampar di depannya. TIdak banyak orang kutemui di jalan itu, Cuma orang- orang asing, yang lalu lalang di sekitarnya, orang- orang yang tidak sedemikian ramah dan tidak mudah untuk ditemui,orang- orang seperjalanan yang ternyata punya tujuan sendiri-sendiri. Wach…. Bukan mudah untuk melewatinya, dan jalanan yang panjang ini tetap merupakan jalan yang sepi. Orang yang mengetahuinya tidak akan menyusurinya yang mengetahui arahnya, tidak akan berani berjalan bersama orang- orang asing itu.

Aku juga tidak tahu mengapa sampai hari ini aku tetap bisa menyusuri jalan ini dan sampai hari ini tidak sedikit orang yang kutemui. Sayangnya dan sungguh sayang , ada orang-orang asing seperjalanan yang kemudian tidak tahan dan segera berbelok arah dan kembali.

Kasih, Tuhanku,

Kenyataan membuktikan hari ini keadaanku tidak lebih baik dari kemarin, Tidak fisikku yang rapuh ini, yang serasa butuh banyak waktu untuk istirahat dan tidur. Perutku yang beberapa hari ini sedikit menarik perhatianku dengan sedikit gurat-gurat perih dan pedih yang aku juga tidak tahu menamainya apa sebagaimana orang medis menyebutnya. Tidak juga pikiranku yang senang sekali mengembara, sampai jauh…. Jauh sekali sampai di penghujung jalan. Coba …. Bayangkan tidak Cuma di taman Edensor buatan alam mimpi… tetapi dari Nasareth…. Ke Betlehem sampai ke Kalvari terus menuju Pangkalpinang, dan dalam duniaku. Bukankah ini luar biasa, yang selalu termaktub dan terpahat dengan kuat dan dalam benakku. Oh,…. Tuhanku yang agung dan hidup, hatiku yang lemah dan tidak berdaya, betapa tak berdayanya aku berjalan menyusuri jalan panjang dari Betelehm ke Nasaret. Betlehemku yang telah lama kutinggalkan, tetapi masih tersisa dalam benak dan bayanganku yang sulit terlupakan. Betelehem tempat awal kehadiranku yang menyejarah dalam planet bumi ini.

Tapi , bagaimana pun hatiku tahu, sadar meski kesadaranku bagaikan kerlip lilin saat ditiup angin malam.Kutahu aku akan baik-baik saja.Aku tahu kepada siapa aku harus percaya.Aku tahu kepada siapa harus kutadahkan tanganku,Aku tahu kepada Siapa aku harus berharap dan aku tahu kepada siapa kukisahkan jeritanku. Sungguh , hanya kepada-Mu.

Tetapi bagaimana Engkau melihat hal ini? Rasa aku tahu tidak sebanding dengan kecilnya kemauanku untuk sungguh bangun dan menarus semuanya pada-Mu. Betapa lambannya hatiku, persis seperti lambannya pikiran dan hati dua murid dalam jalan ke Emaus. Tetapi mau bagaimana lagi, selama matahari masih bersinar untuk orang yang jahat dan baik dan hujan Kauturunkan untuk semua orang, aku tetap berharap, sampai kapan pun aku akan baik-baik saja. *** resume ref,h.martine

Pkp. 15 Okt 2011