
Senin, 30 November 2009
AKU TELAH MENEMUKANNYA

RASANYA SEPERTI PULANG KAMPUNG
Hatiku bersorak ria dan jiwaku bersukacita, kalimat indah yang kupinjam dari Magnificat Maria, Bunda Nasaret. Sepanjang hari yang penuh kenangan dan membuka wawasan baru dalam pengalaman hidupku. Sebenarnya aku malu, sungguh malu, saat mendengar komentar seorang ibu muda yang sedang menggendong putranya: “ saya sudah 10 tahun tidak pernah melihat seorang suster. Anak saya tidak tahu, suster itu apa dan bagaimana, Kalau di flores, banyak suster, bisa dijumpai. “ yang lain malah berkisah, selama 29 tahun merantau dari Flores dan menetap di Bangka tidak pernah melihat suster.
Maklum, ini
Anak-anak keturunan suku Flores perantau yang berdomisili di stasi Air Mesu ( Paroki Koba – Bangka) menonton kami dari jauh. Mereka memperhatikan kami, sepertinya makluk baru yang turun dari langit. Ketika diajak bersalaman, mereka malu dan tunduk. Entah apa perasaan mereka, takut, malu? Yang jelas kupikir, mereka merasa kami makluk asing yang masuk kampung mereka. Untung, orang tuanya yang nota bene asli kelahiran Flores, bisa menyapa kami sebagai suster dan bisa berkomunikasi dengan baik. Untung juga, lama-lama anak-anak itu mau digendong suster, mau menjawab pertanyaan suster, dan mau berakting untuk berpose bersama.
Menyusur daerah ini yang baru pertama kali kudatangi, itu pun kebetulan diajak, sebagai fotografer, aku merasa seperti pulang kampung. Di sepanjang jalan masih banyak pohon-pohon, bahkan ada ladang yang ditanami padi yang menghijau indah dari kejauhan. Rumah-rumah sederhana, dari papan dan pelupu( sebutan di kampung untuk dinding rumah dari bambu cincang), ayam kampung dan anjing kampung yang berkeliaran bebas di halaman, bahkan turut berteduh dekat-dekat tempat kami berkumpul. Jalan beraspal namun bisa dihitung berapa kendaraan yang lewat. Cuma motor yang sekitar sepuluh atau limabelas menit melintas di jalanan. Wajah-wajah yang dibaluti kulit hitam manis, dengan bola mata indah. Untung anak-anak itu sudah basteran, kata ibu mereka dan minum air Bangka, jadi rambutnya lurus atau berombak, jarang yang rambut kriting, seperti punyaku yang menandakan betapa sungguh asli Flores. Bentuk rumah dengan tenda-tenda kecil dari papan di bawah pohon nangka atau mangga untuk tempat magang dan bersenda gurau, … pokoknya semua-semuanya mengingatkan aku akan masa kecil di kampung yang lucu, dengan suasana yang mirip kutemukan di Air Mesu. Belum lagi, aku merasa anak-anak itu wajahnya mirip teman-teman di kampungku, bahkan mirib tetanggaku. Dan seorang Bapak berperawakan kecil itu mengingatkan aku akan bapaku di rumah, yang kini sudah tua. Ah…. Semuanya bagaikan di rumah, di kampung, Apalagi kami disuguhi makanan nasi merah, sup ayam kampung, telur ayam rebus bale tomat, duduk bersila di lantai di atas tikar… wach semuanya seperti di kampung. Sejenak aku lupa, kalau aku berada di Pangkalpinang.
Memalukan, bila perasaan hatiku ini berlebihan, tapi inilah kenyataan sebuah rasa yang hadir dengan bebas saat melihat, mengalami sebuah situasi yang baru. Sampai kini, suasana yang familier dari om-om dan tante di Air semut tertera jelas dalam ingatanku. Tertawa yang renyah dan kencang gaya khas Flores yang menghalau galau di hati masih terngiang jelas di telingaku. Dan terutama kata-kata ibu itu « sudah 10 tahun tidak bertemu suster, dan ajakan mereka agar kami datang lagi… menusuk-nusuk hatiku.
Yach… aku namakan diriku orang bangka, yang sudah mulai menyatu dengan budaya Bangka, tapi itu di kota. Kota pangkalpinang yang telah membentuk aku sekian tahun. Pagar-pagar kokoh biara, dengan gerbang yang terbuka pada jam tertentu, telah membentuk aku nyaris lupa ‘ dari mana aku berasal, di mana sekarang aku berada, dan untuk apa aku ada ?
Aku yang sudah lelah dan menjadi agak risih kalau berjalan kaki.Yang juga sudah tidak tahu naik sepeda seperti dulu saat masih di novisiat. Aku yang sudah tidak tahan kalau duduk bersila di lantai tikar dan mesti kipas-kipas jubah untuk duduk di atas papan. Aku yang merasa nyaman, duduk di atas motor dengan kecepatan tinggi melaju seperti pembalab, yang juga sedang bermimpi duduk di belakang setir mobil seperti mereka-mereka itu. Aku tidak pernah lagi tahu bagaimana caranya menimba air di sumur. Aku yang tidak tahan duduk diam dan tidak bisa bersahabat lagi dengan nyamuk-nyamuk kebun yang berdengung ria seperti dulu. Aku yang pasti tidak tahan lagi berjalan di atas tanah tanpa alas kaki, karena sekian tahun selalu beralas kaki bahkan dilengkapi dengan stoking dan kaos. Aku yang sudah tidak sabar mendengar cerita bapak-bapak dan om tentang anak dan keluarganya, karena sebentar-sebentar meraih handpond dari kantong untuk melihat ada SMS. Aku yang sudah enggan menyapa dan sekadar memeluk anak-anak itu.
Benar-benar… pikiranku menjadi kacau dan sampai terbawa mimpi. Mimpi seolah-olah aku di kampung. Kunjungan ke Air semut telah menghidupkan ingatanku akan akarku di mana aku bertumbuh …. Di kampung.Dan akan menjadi lucu, meski memang pantas aku menerima perubahan dan perkembangan diriku kalau aku sampai aku tidak tahu bagaimana harus menyapa “ orang kampung”.
Teringat olehku dan menjadi pertanyaan besar di kepalaku. Mengapa Yesus hadir di dunia ini dan dibesarkan di kampung Nasaret? Kampung yang tidak terkenal seperti Yerusalem misalnya? Nasaret… oh Nasaret…. Tempat Sang Putra Allah, hidup dan dibesarkan. Yesus tidak pernah lupa Nasaret. Kesederhanaan, kesahajaan, sikap familier dengan anak-anak, dengan pendosa, dengan siapa saja…. Yang dipunyai Yesus itu…. Terbentuk dari alam Nasaret. Yach… Nasaret....
Semestinya aku… yang dari kampung ini kampung yang sudah lebih baik, maju d ari Nasaret jaman dulu, tahu bawa diri, tahu bagaimana menghidupi “KESEDERHANAAN” dalam hidupku. Bagiku yang seorang suster KKS, kesederhanaan bukan Cuma milik mereka-mereka di Air Semut itu…. Tetapi semestinya menjadi milikku, karena itu adalah salah satu butir spiritualitas KKS yang pokok. Kalau sampai aku yang dari kampung, dibesarkan di kampung, tidak tahu bagaimana hidup SEDERHANA, sungguh sebenarnya lebih memalukan dari Cuma sekadar mendengar komentar ibu muda itu yang sudah lebih dari 10 tahun tidak bertemu suster.
Terima kasih Tuhan, buat pengalaman indah ini. Kunjungan keluarga ke Air MEsu, Koba- Bangka Minggu, 29 Nop 2009 bersama Sr. Claudia, Ancilla, Petra dan Luois. Juga saudara yanto dan adik Sofi. Indah karena Tuhan mempertemukan aku dengan DIRINYA dan diriku.
Senin, 09 November 2009
Minggu, 08 November 2009
Mengenal dan mencintai Pendiri Mgr. Vitus Bouma, sscc
Bagi Suster KKS, Mgr Vitus Bouma, KKS mendapat tempat yang sangat istimewa. Beliau adalah Bapak pendiri Kharismatis Kongregasi Suster Dian Keluarga Suci dari Pangkalpinang ( KKS). Disebut pendiri kharismatis karena Beliau yang meletakkan dasar pendirian KKS, beliau yang memiliki visi cemerlang bagi masa depan Gereja Indonesia, Pangkalpinang khususnya.
KKS hadir di bumi Indonesia, di tanah Bangka sejak tahun 1937, pada masa Mgr. Vitus Bouma, SSCC menjabat sebagai Prefek Apostolik Bangka Belitung. Perjalanan lahir dan berkembangnya KKS tidak semulus jalan tol. Berbagai tantangan menghadang antara lain masa perang dunia II, masa pasca kemerdekaan RI, sampai akhirnya secara konstitusional dengan adanya Dekrit Pendirian Kongregasi yang dikeluarkan di Pangkalpinang pada pesta St. Yosep, 19 Maret 1960 oleh Mgr. Nikolaus Petrus Gabriel van der Westen SS.CC yang menjabat sebagai Vikaris apostolik Pangkalpinang pada saat itu. Oleh KKS Mgr van der Westen dianggap sebagai pendiri kanonik.
Tahun 2010 mendatang dijadikan tahun penuh syukur dan kenangan di mana para Suster KKS merayakan keberadaannya secara konstitusional selama 50 tahun. Berbagai kegiatan rohani telah direncanakan untuk menyongsong perayaan agung ini. Tentu, nama dan semangat Mgr. Vitus Bouma, SSCC dikenang dan didengungkan secara lebih istimewa.
Siapakah beliau? Pepatah mengatakan: tak kenal, tak sayang. Mengenal sejarah hidup, semangat, visi misi serta kharisma dan spiritualitas beliau dapat mengantar kita untuk menyelami secara mendalam kharisma, spiritualitas dan khazanah warisan Kongregasi.
Secara khusus Gema Familia akan memuat kisah hidup dan semangatnya bagi kita dalam edisi mendatang.***
Monsinyur Bouma adalah seorang pembimbing yang istimewa dengan kebijaksanaan yang besar, dan juga pintar sekali. Dalam pergaulan, beliau sangat sederhana, dan seorang pendiam, dan tak lancar berbicara, tetapi di manapun Beliau hadir, maka orang menjadi tenang; Beliau disayangi dalam masyarakat katolik. Beliau sangat memperhatikan para misionaris dan mereka percaya akan Mgr. Bouma.” ( dari : in memeriam, oleh P. Van Thiel, SSCC)
Pendiri Karismatis : Mgr. Vitus Bouma SSCC (Wietze Bouma)
Prefek Apostolik Bangka – Biliton.
Lahir : Oude Mirdum, 6 Desember 1892
Dari Pasutri :Wietze Rinus Bouma dan Agatha Westerdorp
Baptis di Paroki Westerdorp
Wafat : Lubuk Linggau, 19 April 1945
Semboyan : “NISI DOMINUS AEDIFICAVERIT”
( Kalau bukan Tuhan yang membangun rumah,
sia-sialah usaha orang yang membangunnya)
Visi dasar
“Semua orang mengalami kehadiran yang Ilahi di dunia ini, terutama di dalam keluarga-keluarga di Asia, dengan mentalitas ketimuran sesuai teladan Keluarga Suci”.
1. Pendidikan di Seminari :
a. Masuk seminari rendah SS.CC tahun 1908 di Grave, Belanda Selatan.
b. Lulus seminari tahun 1913
2. Pendidikan Biarawan:
a. Masuk Novisiat : 10 September 1913 ( 21 tahun ) di Tremelo di Belgia.
b. Penerimaan jubah : 23 September 1913 dan diberi nama : “Vitus”.
c. Pengikraran kaul : 27 Januari 1915, di Grave.
Vitus mengikrarkan kaul kekal tanggal 18 Maret 1918 di Grave. Sebagai seorang frater , ia sempat berkarya sebagai guru selama lebih dari 4 tahun samapi September 1920. Dia dikenal sebagai guru yang pandai, tak kenal lelah, rajin dan berbakti. Vitus juga secara teratur mengarang dalam majalah misi De Zelatur, sebuah majalah khusus untuk muda-mudi. Tahun 1919 Pater SSCC mulai menerbitkan suatu majalah bulanan untuk mempromosikan aksi misi umum “wereldapostolaat”. Vitus banyak menulis artikel-artikel khususnya mengenal karya misi di seluruh dunia , misi di antara orang-orang eskimo, misi di Oceania. Tahun 1920 Vitus melanjutkan studi teologi di seminari tinggi di Vankenburg. Dalam rangka studi Vitus mengorganisisr banyak konferensi. Vitus dikenal sebagai seorang yang berpikir dan bekerja sistematis.
Tanggal 11 Maret 1923, Vitus ditahbiskan sebagai imam. Agustus 1923 Vitus diutuss sebagai guru di seminari rendah di Sint Oedenrode. Sebagai guru, Vitus dikenal sebagai seorang yang menguasai pengetahuan bahasa-bahasa klasik dengan sangat baik, kadang acara harian diganti dengan jam pelajaran mengenai karya misi yang sangat menarik. Vitus suka bercerita mengenai negeri Tiongkok dan tertarik pada negeri dan bangsa ini karena mempunyai beberapa sifat yang menyerupai sifat dirinya sebagai orang Fries, yakni pintar, rajin dan tekun.
P. Jan de Weyer, SSCC mantan murid Vitus memberi kesaksian bahwa baginya Vitus adalah sosok guru yang pintar dan luar biasa tekun : “ Beliau sangat berdisiplin, mampu membri semangat besar kepada mahasiswa, sehingga emreka belajar dengan senang ehati. Cerita-ceritanya tentang karya misi sangat mempengaruhi mahasiswanya.:
Pada masa itu Vitus juga menjabat sebagai redaktur suatu majalah lain yang sayang sekali hanya dapat terbit dua tahun. Di Sint Oedenrode, Vitus diangkat sebagai prior para religius di situ. Vitus berkarya sampai ditunjukkan untuk akrya misi di bangka Belitung pada bulan Juli 1925.
Tanggal 28 September 1926 Vitus berangkat ke tanah misi Bangka Belitung dengan kapal laut tiba di Singapura 21 Oktober 1926. selama 3 bulan di Singapura Vitus belajar bahasa dan dasar-dasar budaya Tionghoa, azas-azas penting adat istiadat bangsa Timur dari seorang misisonaris P. Gazaut, MEP.Vitus dengna tekun belajar bahasa Tinghoa sehingga dalama waktu 3 bulan, dia sudah dapat membawakan sakramen pengakuan. Vitus sadar, bahwa seseorang baru bisa mengeluarkan isis hatinya dengan baik, kalau dia dapat mengutarakan bahasanya sendiri. Sebagai seorang misionaris Vitus sanagt memperhatikan bahasa setempat. Pengalamannya dengan P. Gazaut , MEP dan kontak pribadi dengan keluarga-keluarga China memberi banyak pengalaman dan bekal bermanfaat bagi Vitus dalam karya misinya di Pulau Bangka .
Janauri 1927 Vitus berangkat ke Bangka bersama P. Petrus Lahaye. Vitus diberi tugas mempersiapkan diri untuk karya pastoral di Pulau Belitung. Bulan April 1927 Vitus berangkat ke Belitung menjadi pastor pembantu membantu P. Marcellus van Soets. Di belitung Vitus mencoba memulai sekolah dasar, tetapi tidak berhasil. Tidka jelas penyebab kegagalan ini, mungkin umat Tionghoa belum cukup percaya akan sekolah bukan Tionghoa, mungkin juga karena Vitus belum mahir berbahasa China.
Juni 1927 Vitus bersama marcellinus van Soets ke Bangka sebuhungan dengan kunjungan pembesar kongregasi dari Belanda Pater Provinsial Nobertus Poelman. Vitus mendapat tugas baru darinya yang lebih definitif. Vitus ditugaskan di Bangka dengan pesan khusus yakni memperhatikan pendidikan di sekolah.
Tanggal 29 Mei 1928 Vitus Bouma diangkat sebagai Prefek Apostolik Bangka Beliton menggantikan Mgr. Herckenrath, SSCC .
Ketika Kongragasi SSCC mengambil alih misi di Bangka sari Pater Kapusin,telah ada kapela kecil di Sambong, Belinyu, Manggar – Belitung dan kepela di Sungai selan yang sejak tahun 1924 tidak dipakai lagi. Pada masa Mgr Herckenrath ia telah memebri perintah untuk mendirikan kapela di Mentok. I ajuga telah mulai mengurus pendirian sekolah di Mentok setelah Kongregasi suster Penyelenggaraan Ilahi di belanada berjanji emngirimkan suster-susternya ke Bangka. Tahun 1925 delapan suster pertama tiba di Mentok. Beliau juga mendirikan gereja besar di Moro, kep. Riau untuk masyarakat China Katolik yang terdiri dari nelayan-nelayan China. Para misionaris pada tahun 1928 ada 3 bruder SSCC, 8 pastor SSCC dan 15 suster Penyelenggaraan Ilahi. Ketika Vitus Bouma mengambil alih misi dari Mgr Herckenrath jumlah orang katolik kira-kira 600 orang tersebar di P Bangka, P.Belitung dan Kep. Riau dari jumlah penduduk seluruhnya 350 ribu. (bersambung
Selama tahun-tahun pertama sebagai Prefek, Bouma mengusahakan membangun sebanyak mungkin gereja, pertama di Pangkalpinang, pusat perusahaan timah Bangka. Setelah Beliau melihat, bahwa stasi Sambong merosot dalam hal ekonomi, sehingga tambang-tambang timah mulai ditutup. “Sambong sudah mati”, begitulah Bouma menulis dalam ikhtisar tahunan pada tahun 1928. Lokasi stasi Sambong kurang bagus, yaitu di tengah-tengah tambang-tambang timah disana mulai ditutup. Maka sekolah di sana ditutup juga pada bulan Agustus. Stasi Sambong tak berguna lagi dan Vitus mengambil inisiatif untuk berpindah ke Pangkalpinang secepat mungkin. Bouma memutuskan untuk tinggal di Pangkalpinang. Dibelinya sebidang tanah yang luas, dekat pasar ikan, demi bangunan-bangunan nanti. Tanggal 24 Mei 1931 Gereja dan gedung paroki baru selesai dibangun. Pada tanggal itu gedung-gedung diberkati, dan Mgr. Bouma pindah dari Sambong ke Pangkalpinang.Dekat gereja masih dibangun suatu rumah, tempat tinggal sementara untuk para pastor dan suatu sekolah yang kecil, dimana pater-pater mulai mengajar. Sekolah ini dibuka 23 Juni 1931.
Pada tahun 1933 Bouma berhasil menggariskan suatu kontrak dengan propinsi Belanda Kongregasi Budi Mulia, untuk memulai berkarya di Misi Bangka. Itu terjadi tanggal 9 Juni 1933. Pada tahun 1934 bruder-bruder pertama tiba di Pangkalpinang.Pada tahun 1938 suster-suster dari Penyelenggaraan Ilahi, yang sudah berkarya di Mentok dan Belinyu, memutuskan untuk mulai berkarya juga di Pangkalpinang. Mereka mengambil alih sekolah dari pater-pater, dan mulai tinggal di pastoran. Pater-pater pindah ke Kampung Jelutung, dimana Monsinyur telah berhasil membeli suatu rumah yang murah.
Di Belinyu didirikan rumah biara suster-suster, dan suatu rumah untuk anak-anak yang sakit dan buta. Kompleks dibuka 22 Juni 1931. Stasi Mentok pun diperluas. Kapela yang dibangun atas inisiatif Mgr. Herkenrath diganti dengan suatu gereja yang masih dipakai sekarang. Pemberkatan pada 1 Oktober 1932. Untuk para suster dibangun suatu biara. Juga dibangun asrama dan sekolah. Gedung-gedung lama di Sambong dibongkar dan dipindahkan ke Kampung Jeruk (Kebun Sahang). Perumahan diberkati pada tanggal 15 Agustus.Di Sungailiat dibangun suatu sekolah yang bagus sekali dan rumah untuk bruder-bruder. Di Manggar – Belitung , di dusun Samak, dibangun suatu stasi yang baru.
Kepulauan Riau pun mendapat perhatian cukup banyak dari Bouma. Di ibu kota Tanjungpinang didirikan suatu gereja baru yang diberkati 5 Mei 1933. Di Pulau Karimun Bouma membuka suatu stasi baru, supaya dari situ pater-pater dengan mudah dapat berlayar ke Singapore. Kapela dari stasi misi ini diberkati tanggal 14 Nopember 1933. Ketika Bouma mengambil inisiatif untuk membangun sekolah di Karimun, beliau memakai metode yang sama yang telah dipakai di Sambong. Gereja besar di P. Moro tak dipergunakan lagi karena orang-orang katolik, yang kebanyakan bermatapencarian sebagai nelayan pindah ke tempat lain. Gereja dibongkar dan bahan-bahan dipakai untuk suatu gereja yang lebih kecil di Moro dan untuk sekolah di Karimun. Di Moro umat katolik tidak menyenangi perubahan ini tetapi Bouma meneruskan rencana-rencananya.
Kata “Nisi Dominus aedificaverit”, dipakai Mgr. Bouma sebagai semboyan dalam lambangnya: “Kalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.” Dalam segala usahanya Bouma percaya akan Tuhan, tetapi Bouma tidak menyerahkan satu halpun kepada takdir. Beliau sendiri mengukur tanah-tanah dan mengerjakan sendiri segala rencana sampai sekecil-kecilnya. Dalam segala usaha-usaha ia dibantu oleh bruder Gerard Jeanson SSCC dan kemudian oleh bruder Antonius Bruijns SSCC, setelah bruder Gerard meninggal. Ketiga religius ini menghadiahkan kepada misi sebelum perang dunia II banyak gedung yang bagus dan berkualitas tinggi.
Aktivitas pembangunan nyata terlihat di bawah kepemimpinannya. Karena itu di Bangka Belitung beliau dinamakan “ Si Pembangun”. Malahan kadang-kadang oleh orang Belanda namanya salah ditulis, bukan Bouma melainkan Bouwman artinya “pembangun”.
Sumber : buku Monsegnur Vitus Bouma ( 1892 – 1945) yang disusun oleh Jan Wouters SSCC Pangkalpinang 2000).
Sebagaimana julukan “ Si Pembangun”, Bouma tidak hanya memperhatikan perkembangan kota Pangkalpinang –Bangka tetapi juga di tempat lain, Di Belinyu misalnya, didirikan rumah biara bagi para suster dan rumah untuk anak-anak yang sakit dan buta pada tahun 1931 tepatnya tanggal 22 Juni. Kapela di Mentok diganti dengan bangunan gereja yang diberkakati tanggal 1 Oktober 1932 dan masih dipakai sampai sekarang. Dibangun pula di Mentok biara untuk para suster dan sekolah yang masih bisa ada sampai kini. Di Sungailiat, dibangun sekolah, dan rumah biara untuk bruder.
Tidak Cuma Bangka yang menjadi perhatian Bouma. Di Manggar –Belitung dbangun stasi baru. Di kepulauan Riau yakni di Tanjung Pinang didirikan gereja baru . Di P.Karimun dibuka stasi baru agar mempermudah para imam ke Singapura. Pembukaan stasi baru dan juga sekolah di Tanjung Balai Karimun. Gereja di Moro dibongkar dan dibangun kembali yang lebih kecil sementara bahan bangunan dipakai untuk membangun sekolah di Tanjung Balai –Karimun.
Bouma, tidak cuma berpikir dan mengatur, tetapi terlibat dalam pembangunan tersebut. Beliau sendiri mengukur tanah dan mengerjakan sendiri segala rencana sampai sekecil-kecilnya. Dalam usaha pembangunan itu, ia dibantu oleh bruder Gerard Jeanson ,SSCC dan kemudian bruder Antonius Bruiins setelah bruder Gerard meninggal dunia. Mereka bertiga menghadiahkan kepada misi banyak gedung yang bagus dan berkualitas sebelum perang dunia II.
Dalam segalanya, Bouma berpegang teguh pada semboyannya, yakni Nisi Dominus Aedificaverit yang diambil dari mazmur 127 “ jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya”. Dalam segala usaha pembangunan itu baik bangunan fisik maupun bangunan rohani , jemaat yang semakin berkembang, Bouma percaya akan Tuhan, sungguh percaya akan peranan dan kuasa Tuhan yang melakukan segalanya. Bouma juga tak menyerahkan satu hal pun kepada takdir. Baginya, Tuhanlah yang membangun.
Seperti kita pahami bersama, bahwa setiap usaha pembangunan gedung, membutuhkan banyak biaya. Untuk proyek-proyek pembangunan tersebut, Bouma terpaksa meminjam sejumlah uang dan meminta kepada para imam-imam dan bruder –bruder waktu itu untuk hidup sesederhana mungkin.
Memang cara untuk mendapatkan uang adalah penghasilan dari kebun lada , milik misi di Kampong Jeruk-Pangkalpinang yang sejak diambil alih karya misi dari pater-pater kapusin sudah ada kebun karet. Bouma melihat bahwa harga karet rendah maka beliau memutuskan memperluas kebun karet menjadi kebun lada, yang diolah secara sangat baik dan profesional mengikuti metode-metode pemeliharaan lada. Tidak heran, sejak awal hasil kebun lada membawa sukses besar bahkan mendapat nama baik tidak hanya di Bangka tetapi terkenal di luar Bangka. Para ahli mengakui bahwa mereka belum pernah melihat lada berkualitas tinggi dan mereka menaruh penghargaan besar bagi managemen Mgr.Bouma.
Beliau sendiri, saat berlibur, tidak segan-segan memakai pakaian kerja dan turun ke kebun membantu bruder Pacomius dan bruder Antonius di perkebunan. Bagi Bouma, kebun lada ini tidak hanya sebagai sumber penghasilan materi yang menyokong berbagai kegiatan karya misi Bangka-Beliton tetapi juga sebagai “kebun anggur”. Di mana beliau mempekerjakan orang-orang katolik yang baik, yang oleh karena kesaksian hidup mereka yang baik, dengan sendirinya mengundang orang untuk percaya kepada Tuhan.***














