Selasa, 05 April 2011

BERSATU DALAM KEBENARAN MEMBANGUN KELUARGA ALLAH

Kita semua mempunyai sebuah keluarga, terlahir dan dibesarkan dalam keluarga. Setiap kita mempunyai ayah dan ibu, suadara dan keluarga besar yang dari mereka kita belajar banyak hal. Namun tidak semua orang merasakan bagaimana hidup dalam sebuah keluarga meskipun berasal dari keluarga.
Seorang teman pernah berkisah tentang masa kecilnya. Terlahir sebagai anak yang tidak sepenuhnya diharapkan orang tua untuk hadir di bumi, sepertinya dia ada begitu saja. Masa kanak-kanaknya dia merasa bertumbuh sendiri, karena si ibu sibuk mengurus saudaranya yang lain. Dia dirawat oleh kakaknya yang tentu beda dengan ibu. Masa kecilnya memprihatinkan, sepertinya tidak terlalu dipedulikan meski makanan dan minuman memang tersedia, tapi kehilangan kasih sayang. Tidak ada yang mencarinya ketika dia pergi bermain jauh dari rumah, tidak ada yang mengajarkan hal-hal yang baik dan tidak baik. Dia lebih banyak belajar dari teman sepermainan dan tetangga. Dia cuma tahu satu saja, kalau dia salah dihajar oleh ayahnya habis-habisan dan dihukum ibunya tidak makan. Teman ini tidak mengalami kasih yang sesungguhnya dan layak diperoleh oleh seorang anak, yang katanya sangat mempengaruhi hidupnya saat ini.Kisah di atas merupakan salah satu gambaran sebuah keluarga yang ”tidak utuh” karena banyak kekurangan. Banyak dari kita semasa kecil mengalami berbagai hal yang membawa luka mendalam dalam hati karena pengalaman ”buruk” dalam keluarga. Namun, bagaimanapun pengalaman yang telah terjadi tak dapat ditolak dan dilupakan.
Keprihatinan terhadap kehidupan keluarga masa kini, semakin marak. Kita dapat saksikan dari sinetron atau serial drama yang menayangkan sisi-sisi lemah sebuah keluarga. Kekerasan, baik fisik maupun emosional dalam rumah tangga, ketidaksetiaan satu lain semakin menghiasa rumah tangga kita.Banyak keluarga dan rumah tangga bingung tidak tahu ke mana harus mengayuh bahtera keluarganya.

Pusat hidup keluarga
Setiap keluarga memiliki warna khas tersendiri. Ada keluarga yang memusatkan hidupnya pada ekonomi. Sepanjang waktu bekerja dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga. Ada keluarga yang memusatkan hidupnya pada karier, dengan mengejar peluang apa saja untuk meningkatkan karier dan reputasi keluarga. Ada keluarga yang memusatkan hidupnya pada jabatan dan kuasa sehingga ada kehausan yang tak tertahankan untuk selalu berusaha semakin berkuasa atas orang lain. Ada juga keluarga sederhana yang tidak tahu harus bagaimana mencari makan karena tidak punya apa-apa dan mau apa. Ada keluarga yang cukup religius, yang memusatkan hidupnya pada perkara Tuhan, yang sangat aktif dalam ritual kegiatan keagamaan. Ada juga keluarga yang menghiasi hidup rumah tangganya dengan kasih, yang selalu memberi tumpangan, beramal dan mengajarkan anak-anaknya untuk menghargai orang lain. Rumah tangga di mana orang-orangnya tidak memiliki sesuatu sebagai pusat hidupnya, hampir tidak ada orientasi lebih, hidup sekadarnya, apa adanya bahkan sama sekali tidak terpikirkan mau ke mana sebenarnya membina hidup keluarga.
Tidak banyak orang sadar bahwa setiap kita diciptakan untuk mengagungkan dan memuliakan Tuhan. Banyak orang tahu bahwa hidup ini tujuannya untuk beranakcucu dan bertambah banyak, memenuhi bumi dan menguasainya. Orang lupa bahwa hakekat hidup manusia yang bahagia sesungguhnya adalah hidup dalam kesatuan kebenaran dengan Allah Penciptanya. Ketidaktahuan, ketidaksadaran hakekat ilahi ini membuat banyak orang, keluarga dan rumah tangga membangun hidup tanpa dasar yang kokoh dan kuat.



Kasih dasar hidup keluarga
Perkawinan yang membentuk sebuah rumah tangga dan keluarga seyogyanya dibangun atas dasar kasih. Karena ketertarikan antara dua manusia yang berbeda jenis kelamin pria dan wanita ini berawal dari rasa kasih dan bermuara pada persatuan kasih. Namun dalam perjalanan tidak mudah mempertahankan kasih yang langgeng dalam bahtera rumah tangga. Bahkan ada kecenderungan masa kini, orang membangun keluarga yang penting punya teman hidup, soal cinta nanti dulu, belakangan baru belajar, waktu yang akan menumbuhkan cinta. Ada benarnya juga namun tidaklah kuat dasar yang demikian.
Banyak kaum muda tak mampu membedakan antara hidup yang dibangun di atas dasar kesamaan selera, kesamaan rasa dan dibangun atas dasar komitmen kasih sejati. Soal selera, rasa dan komitmen sewajarnya terus bertumbuh dan menghiasi hidup rumah tangga yang menuju bahagia. Rumah tangga yang menghiasi hidupnya dengan perlengkapan rohani, mengerti bahwa cinta kasih adalah satu-satunya fondasi hidup keluarga dan hidup beriman. Karena di mana ada cinta kasih, di situ Tuhan hadir. Di atas fondasi kasih, kita baru bangun yang lainnya yang diperlukan dalam hidup ini. Mengenakan perlengkapan kasih membutuhkan senjata iman agar dapat bertahan terhadap segala amukan badai dan gelombang yang menghantam bahtera hidup keluarga. Hanya cinta kasih yang dapat membuat orang bertahan dalam kesulitan, hanya cinta kasih yang mampu membuat orang kuat berjalan dalam kepekatan penderitaan hidup rumah tangga.

Kita sebagai satu keluarga
Meskipun terlahir dari orang tua dan keluarga yang berbeda-beda namun pemahaman keluarga masa kini mengalami perkembangan. Di berbagai tempat muncul persekutuan keluarga baru berdasarkan asal-usul suku, bakat, hobi, dan keyakinan. Dapat dikatakan bahwa kita semua adalah satu keluarga besar dalam Tuhan. Satu keluarga yang menghuni bumi ini. Kita sebagai satu keluarga yang bersama berjuang dan bekerja keras untuk membuat kesatuan keluarga di bumi ini berjalan sesuai maksud Allah. Sayang sekali, kuasa dosa yang bercokol dalam diri setiap manusia, kerap menghalangi kita untuk membangun hidup dalam kesatuan. Kita lebih cenderung merasa nyaman dalam kelompok-kelompok kecil yang destruktif yang bisa juga mengancam hidup orang lain yang sebenarnya adalah anggota keluarga bumi ini dan anggota keluarga Tuhan.
Kelemahan dan ketidakberdayaan manusiawi kita juga telah banyak kali membuat hidup sesama kita menderita. Alam yang ”mengandung, melahirkan dan memelihara ” kehidupan kita juga menderita karena eksploitasi liar manusia. Bumi tempat yang seharusnya layak dihuni dan nyaman bagi semua anak-anaknya, kadang menjadi tempat yang menakutkan. Banyak orang putus asa dan takut hidup bahkan tega mengakhiri hidupnya sendiri karena merasa terasing, merasa tiada seorangpun di bumi ini. Rasa memiliki sebagai sebuah keluarga sense of family sudah banyak hilang lenyap dari ingatan kita, bahkan banyak anak dari keluarga-keluarga kita lahir dalam keluarga yang tereliminasi dari lingkungannya.
Orang mengatakan bumi ini sudah tua, mungkin hampir mati.Bumi tidak lagi menumbuhkan harapan bagi penghuninya untuk hidup dalam hospitalitas alami manusia. Meski kenyataannya bukan bumi yang sudah tidak ramah, tapi nurani kita manusia yang sudah liar, jauh dari inti hidup yang sebenarnya. Rasa kasih manusiawi yang dapat merekatkan relasi antara kita sebagai satu keluarga tidak tumbuh dari nurani yang bening tetapi muncul dari otak yang penuh dengan kotoran karena terkontaminasi oleh naluri liar diri yang tak terpelihara dan tak dijinakan seumur hidup dengan anugerah hasrat kasih yang adalah anugerah Ilahi.
Kerinduan untuk mengalami hidup sebagai satu keluarga di manapun kita berada dan ke manapun kita pergi, bagaikan hanya mimpi. Setiap kaki melangkah hati dibalut kekuatiran. Setiap mata memandang, rasanya bukan saudara atau saudariku yang lewat tetapi musuh yang mengancam. Setiap pikiran yang melintas di benak bukannya bagaimana membuat hatiku dan jiwaku tentram dan bagaimana sesamaku bahagia tetapi penuh dengan rancangan dan ikhtiar buruk untuk merampas dan melenyapkan hidup sesamanya.

Teladan Keluarga Kudus Nasaret
Merenung hidup keluarga dan rumah tangga masa kini, tidak terlepas dari teladan utama hidup Keluarga Kudus Nasaret Yesus Maria dan Yosep. Dari Keluarga Kudus kita dapat menimba pola hidup dari setiap aspek yang ingin dikembangkan dalam hidup kita.
Dari aspek kesatuan sebagai satu keluarga Allah, kita pantas meniru dari pribadi Maria. Kesadaran iman yang mendalam akan Allah dan rasa kasih yang besar kepada sesama sebagai satu keluarga Allah serta kerendahan hati yang memposisikan diri sebagai hamba Tuhan memampukan Maria memilih menyerahkan diri kepada Allah untuk memakainya sebagai alat di tangan Tuhan untuk mempersatukan anak Allah di dunia yang tercerai berai karena dosa. Fiat Maria sebagai jawaban indah memuat harapan besar bagi Allah untuk menyelamatkan manusia. Sebab dengan fiatnya, Maria dengan bebas memberi kemungkinan dan tempat bagi Allah untuk bersemi dalam rahimnya, bertumbuh, lahir dan besar dalam keluarga umat manusia. Karena Fiatnya, terbukalah jalan bagi Allah untuk menyelamatkan keluarga umat manusia dalam diri Yesus Putera Juruselamat dunia.
Dari aspek kesatuan sebagai satu keluarga Allah, kita pantas meniru dari pribadi Yosep. Lama Yosep memiliki rencana dan impian sendiri sebagai pria dewasa untuk membangun rumah tangganya. Tindakan Allah yang cermat dan teliti dalam naungan Roh Kudus terhadap Maria tunangannya, membuat Yosep kalangkabut dan nyaris bertindak destruktif atas hidupnya dan terhadap rencana Allah. Kesadaran iman akan Allah yang diimani, disposisi batin yang rendah hati dan tulus hati memampukan Yosep memilih taat penuh hormat dan kasih yang besar pada Allah untuk terlibat dalam rencana Allah untuk keselamatan keluarga umat manusia. Meski cuma lewat mimpi Yosep diyakinkan, namun imannya yang mendalam menyambut pewahyuan Ilahi sebagai sebuah tugas perutusan Allah yang istimewa. Menjadi ”ayah” bagi Yesus sang Juruselamat keluarga umat manusia adalah anugerah.
Dari aspek kesatuan sebagai satu keluarga Allah, kita pantas mengikuti jejak Yesus manusia Allah yang lahir di dunia, bertumbuh dan berkembang sebagai manusia, mengalami segalanya sebagai seorang manusia kecuali dalam hal dosa. Sebagai anak, Yesus taat dan patuh dalam asuhan keluarga Yosep dan Maria. Penuh kasih, Yesus menyapa Maria sebagai ibu dan Yosep sebagai ayah, meskipun Yesus tahu Bapanya adalah yang ada di surga. Dalam ketaatan kasih yang total, Yesus mengosongkan diri-Nya serendah-rendahnya untuk mengangkat martabat manusia yang luhur namun hancur karena kuasa dosa, supaya Dia memenangkan kita untuk Bapa-Nya. Dalam ketaatan dan kesatuan dengan Bapa-Nya, Yesus ”melepaskan atribut keluarga insani” dari ayahnya Yosep dan ibunya Maria, dan menyapa semua orang yang melakukan kehendak Allah sebagai ayah, ibu, saudara dan saudari-Nya.
Keluarga yang memperkembangkan hidup dan menyelamatkan
Hanya kasih, sungguh hanya kasih yang mendalam pada Allah, dapat memampukan orang untuk memilih, bertindak sesuai rencana Allah seperti yang terdapat dalam Keluarga Kudus. Pilihan kita untuk menyatukan diri dengan Allah dalam hidup ini, mestinya membuat kita tahu, sadar dan bahagia bila terlibat ambil bagian dalam partisipasi penuh dalam kehidupan umat manusia. Pilihan kita sepantasnya membuat kita menjadikan hidup kita yang sangat singkat ini, sebagai suatu kehidupan yang menumbuhkan, memperkembangkan hidup sesama. Pilihan bebas kita entah sebagai kepala keluarga, sebagai ibu, atau sebagai seorang gembala, biarawati atau apapun bentuknya, kiranya merupakan sebuah pilihan untuk semakin bersatu dengan anggota keluarga Allah lainnya yang mendiami bumi yang sama ini.
Kesadaran mendalam sebagai makluk sosial yang tidak bisa lepas dari keterkaitan dengan hidup sesama seharusnya membuat kita tahu bagaimana mencintai, bagaimana mengampuni, bagaimana hadir sebagai pribadi yang meneguhkan, bagaimana berada bersama orang lain yang menderita dan bagaimana menyelamatkan hidup sesama dan menyelamatkan bumi ini. Kesadaran sebagai makluk spiritual yang tidak bisa lepas dari relasi dengan Sang asal, sumber dan tujuan hidup kita, seharusnya membuat kita tahu, bagaimana membangun rasa percaya dan keyakinan pada Tuhan, bagaimana mewujudkan iman dalam hidup nyata, bagaimana berdoa, bagaimana bersyukur, bagaimana berharap dan bagaimana mengakui diri sebagai orang berdosa di hadapan Tuhan.
Kesadaran mendalam bahwa saya, dia, mereka, kita adalah satu keluarga dalam Tuhan, seharusnya membuat kita tahu bagaimana menghargai orang lain sebagai saudara, bagaimana hidup bertetangga yang baik, bagaimana memelihara lingkungan di mana kita tinggal, bagaimana menjaga keamanan dan ketentraman bersama sebagai warga masyarakat. Sense of family sebagai satu keluarga seharusnya membuat kita tahu bagaimana membangun keluargaku di rumah yang memperkembangkan hidup semua anggotanya tidak hanya selamat dan sejahtera di dunia tapi juga di surga. Rasa sebagai satu keluarga seharusnya juga membuat kita tahu bagaimana membangun dan memperkembangkan hidupku dalam kesatuan komunitas dengan saudara dan saudariku sepanggilan supaya semua maju bersama, rohani dan jasmani dan bahagia bersama di dunia dan nanti di surga.
Rasa sebagai satu keluarga seharusnya juga mengajarkan kita secara naluriah tahu bagaimana menangis bersama dengan yang menangis, tertawa dan bahagia bersama dengan orang yang sedang berbahagia, bagaimana mengulurkan tangan untuk menghapus air mata dari yang berduka, bagaimana menenangkan hati dari yang sedang gelisah, bagaimana menguatkan orang yang hampir putus asa dan bagaimana meyakinkan orang untuk kembali dari jalan yang salah dan tersesat. Rasa sebagai satu keluarga seharusnya membuat kita tahu bagaimana menuntun orang ke jalan yang benar, bagaimana mendidik nurani anak-anak ke arah moral yang baik, bagaimana berjalan bersama dengan orang yang bijak dan bagaimana bertutur, berlaku yang baik, positif dan menginspirasi hidup orang lain.
Dunia ini akan selamat, kalau keluarga dan rumah tangga serta komunitas kita selamat. Rumah tangga akan selamat kalau setiap anggotanya berkehendak baik untuk selamat dan saling menyelamatkan. Setiap jiwa akan selamat kalau hasrat kasih Ilahi yang sudah ditempatkan Tuhan dalam hati, kepandaian budi untuk berpikir bijak dan kehendak bebas manusia diletakan pada porsi yang benar dan bertanggungjawab. Kita semua akan aman, selamat dan bahagia kalau sebagai satu keluarga, kita bersama membangun dan menghidupkan peradapan kasih Ilahi dalam setiap langkah hidup kita.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar