Selasa, 05 April 2011

MARIA DALAM PERSTIWA DI KANA

Maria dalam Peristiwa Yerusalem

Kisah Maria dalam peristiwa di Yerusalem, dapat kita baca dari Lukas 2 : 21 – 40; Lukas 2 : 41 – 52 dan Kisah Rasul 1 : 12 – 14. Dengan membaca tiga teks ini, membantu kita masuk dalam tiga peristiwa yang mewarnai kisah iman dan panggilan Maria yang terjadi di Yerusalem. Peristiwa pertama, ketika Yesus disunat dan diserahkan kepada Tuhan. Peristiwa kedua, pada saat Maria, Yusuf dan Yesus mengikuti perayaan paskah Yahudi. Peristiwa ketiga, ketika Maria berdoa bersama dengan para rasul dan beberapa perempuan lain menantikan Roh Kudus yang akan dicurahkan kepada para rasul.
Jiwa dan sikap kontemplatif yang dihayati Maria didasarkan pada sikap dan semangat ibadah dan doa yang mendalam. Hubungan antara Maria dan Allah dalam naungan Roh Kudus dihayatinya melalui ibadah dan doa yang terus menerus dan menjadi landasan hidup dan keluarganya. Peristiwa Yerusalem memberikan inspirasi kepada kita bahwa Maria adalah orang yang tekun beribadah. Maria adalah seorang pendoa. Tidak hanya sekadar pendoa tetapi pendoa sejati, yang menghayati hidup doa dalam keseharian hidupnya dan menjiwai seluruh hidup rumah tangganya dengan semangat doa.
Ibadah dan doa dihubungkan dengan Yerusalem sebagai pusat peribadatan tradisi keagamaan Yahudi. Dalam injil terdapat dua kisah permenungan yang menghubungkan Maria dengan Yerusalem, yakni kisah tentang kanak-kanak Yesus dipersembahkan ke Bait Allah di Yerusalem dan kisah remaja Yesus yang tinggal di Bait Allah yang sama. Dalam kisah para rasul, memang disebut Yerusalem, walau tidak dihubungkan dengan bait Allah, namun isinya menunjuk dimensi doa yang dihayati Maria. Dalam pandangan teologis Lukas, Yerusalem adalah tempat terpilih pelaksanaan karya penyelamatan Allah. Di kota itu terdapat Bait Allah, pusat segala tindakan peribadatan dan doa. Yerusalem memiliki peran penting aspek ibadah dan doa seperti yang dihayati oleh Maria.
Yerusalem menjadi semacam rangkuman perjalanan Bunda Maria dalam menanggapi panggilan Allah. Dalam peristiwa Yerusalem terungkap semangat hidup dan jati diri Bunda Maria yang terpilih sebagai Hamba Allah. Di sisi lain dalam peristiwa Yerusalem terlukis jelas resiko atas panggilan Maria yang telah dijawabnya dengan seruan fiat “Terjadilah padaku menurut kehendakMu”. Dalam peristiwa Yerusalem seluruh pergumulan batin Bunda Maria mendapat jawaban sempurna. Dalam seluruh pergumulan panggilan itulah, Bunda Maria sungguh menjadi Ibu Juruselamat,Yesus Kristus. Itulah jejak Bunda Maria dalam menangggapi panggilan Allah, yang sekaligus menjadi teladan yang sepatutnya terus-menerus menginspirasi kita dalam upaya menanggapi panggilan Allah dalam kehidupan kita sehari-hari.
Sebagai orang beriman Kristiani maupun yang terpanggil sebagai biarawati KKS kita diundang untuk menggumuli panggilan kita sehari-hari dalam suasana ibadah dan doa. Orang mengenal hidup kita sebagai hidup yang penuh puji-pujian dan doa kepada Allah. Sebagai orang-orang yang dipanggil secara khusus oleh Tuhan untuk membenamkan diri dalam sabda Tuhan dan karya-Nya. Dari pengalaman Bunda Maria, kita melihat bahwa tidak ada sesuatu hal pun yang lebih bernilai daripada doa, relasi yang akrab mesra dengan Allah yang diimani. Doa tidak hanya meringankan beban berat kehidupan. Doa tidak sekadar pekikan hati yang berteriak minta tolong pada Tuhan. Doa juga tidak hanya ungkapan syukur verbal yang rutin. Doa juga akan dan harus secara nyata memampukan kita menjawab panggilan Allah dengan penuh kerendahan hati dan penuh penyerahan kepada Allah. Doa yang demikian hidup, sehingga kita pun berani berkata seperti Bunda Maria entah waktu baik, entah waktu kurang baik “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu”***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar